Jika Diserang China, Filipina Bersumpah Panggil Militer AS

Jakarta, law-justice.co - Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin Jr bersumpah untuk meminta perjanjian pertahanan Manila dengan Washington jika China bergerak untuk menyerang kapal-kapal perang Manila di Laut China Selatan.

Dalam wawancara dengan penyiar ANC, Loscin juga menyatakan bahwa Filipina akan melanjutkan patroli udaranya di atas perairan sengketa di Laut China Selatan meskipun China menolak flyover seperti itu dan menganggapnya sebagai provokasi ilegal.

Baca juga : Kemenko Perekonomian Buka Lowongan Kerja hingga 2 Mei 2024

"Mereka dapat menyebutnya sebagai provokasi ilegal, Anda tidak dapat mengubah pikiran mereka. Mereka telah kehilangan putusan arbitrase," katanya merujuk pada referensi yang jelas terhadap putusan pengadilan internasional pada tahun 2016 yang menyatakan sebagian besar klaim teritorial Beijing di Laut China Selatan tidak sah, dilansir dari Sindonews.com, Jumat (28/8/2020).

"(Tetapi jika) terjadi sesuatu yangdi luar jangkauan tetapi sebenarnya merupakan serangan terhadap, katakanlah kapal Angkatan Laut Filipina (itu) berarti saya akan memanggil Washington DC," ujar Loscin.

Baca juga : Ditolak Gelora Gabung ke Prabowo, PKS : Tidak Mengapa

Pernyataan itu muncul setelah Departemen Pertahanan Nasional Filipina mengatakan pada pertengahan Juli bahwa mereka sangat setuju dengan posisi masyarakat internasional bahwa harus ada tatanan berbasis aturan di Laut China Selatan.

Pernyataan itu didahului oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Michael Pompeo yang mengecam klaim China di kawasan itu pada pertengahan Juli sebagai klaim yang sepenuhnya melanggar hukum atau ilegal. Pernyataan Pompeo itu memicu Kedutaan Besar China di Washington untuk menanggapi dengan mengatakan bahwa Beijing dengan tegas menentang pernyataan Pompeo.

Baca juga : Mengapa Pengusaha Kalsel Dipenjara Gegara Tak Lapor SPT ?

Pada bulan Juni, Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan keprihatinan atas peningkatan aktivitas Beijing di Laut China Selatan ketika kawasan itu sibuk berjuang melawan pandemi virus corona baru (Covid-19).

"Kami meminta para pihak untuk menahan diri dari meningkatnya ketegangan dan mematuhi tanggung jawab di bawah hukum internasional," kata Duterte.

Dalam perkembangan terpisah pada bulan Juni, Filipina mengumumkan pembalikan dari keputusan sebelumnya untuk mengakhiri Perjanjian Pasukan Kunjungan (VFA) dengan AS, mengacu pada perkembangan politik dan lainnya di kawasan.

Langkah tersebut setelah Duterte menginstruksikan pemerintah pada bulan Februari untuk menghentikan VFA. "Sudah waktunya kita (Filipina) mengandalkan diri kita sendiri," ujar Duterte kala itu.

Kesepakatan VFA, yang ditandatangani pada tahun 1998 dan dipandang sebagai bagian penting dari Perjanjian Pertahanan Bersama kedua negara, menetapkan pelatihan personel militer AS, termasuk Angkatan Laut, Korps Marinir, Angkatan Udara, dan Penjaga Pantai di tanah Filipina.

Wawancara Loscin pada hari Rabu dilakukan di tengah ketegangan regional yang sedang berlangsung di wilayah Laut China Selatan. Kawasan perairan tersebut diklaim oleh China dan sejumlah negara, termasuk Filipina, Brunei, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam.

Meski tidak memiliki klaim atas wilayah tersebut, AS juga aktif ikut campur dalam sengketa tersebut dengan mengirimkan kapal militernya ke Laut China Selatan. Tindakan Washington itu memicu kecaman keras dari Beijing dengan menganggapnya sebagai provokasi.