Jakarta, - Kudeta merayap sejak 2025 untuk kepentingan Jokowi yang dipimpin Jenderal Listyo Sigit yelah gagal akibat terbongkarnya operasi sadap ilegal. Jaringan Listyo dikejar. Mereka yang terlibat ketar ketir khawatir menjadi sasaran pembersihan.
Beberapa orang dekat Prabowo ikut bungkam bahkan menghilang. Publik menjadi penasaran sejauh mana keteribatan makar orang-orang yang menghilang tersebut ?
Di lingkaran terdekat Presiden Prabowo ada empat nama yang sering jadi pintu masuk dan keluar komunikasi yaitu Teddy Indra Wijaya, Hashim Djojohadikusumo, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Sufmi Dasco Ahmad. Masing-masing memiliki jalur.
Sjafrie jalur tentara, Hashim jalur bisnis, Dasco politik, dan Teddy jalur privat. Meski demikian semua bisa bermain lintas jalur.
Hashim dan Sjafrie dikenal loyal dan tentu sangat dipercaya Prabowo sementara Teddy dan Dasco kontroversial dan rentan untuk mudah bermain kepentingan.
Dalam konflik kepentingan Prabowo dengan Jokowi, maka Teddy dan Dasco dicurigai berperan sebagai agen ganda. Masih ada sebutan keduanya orang Jokowi.
Kudeta merayap melalui sadap istana mesti melibatkan orang dalam, soalnya terjadi sudah sejak lama. Persaingan pengaruh internal dapat menjadi motif. Penangkapan Listyo ternyata membuka kotak pandora.
Kemana ia membangun jaringan ke dalam istananya ? Hashim dan Sjafrie kecil kemungkinan. Teddy dan Dasco lebih terbuka untuk dianalisa dan didalami bahkan diusut lanjutan.
Fenomena bungkam dan menghilang Teddy dan Dasco dalam hiruk pikuk skandal besar penyadapan berindikasi makar, patut dipertanyakan. Adakah keterlibatan dengan kerja Listyo dan para Jenderal lain ?
Biarlah pengusutan dan waktu akan berbicara. Kotak pandora segera terbuka. Butuh ratusan ribu pasukan untuk mengamankan. Makar luar yang diduga dari Solo butuh tangan Jakarta bahkan istana.
Tangkap dan periksa Jokowi untuk memastikan gerakan berbahaya. Mumpung ia masih berada di Jakarta. Pengusutsn tuntas tidak boleh selesai di tingkat pelaku meski itu sekelas Jenderal Listyo Sigit.
Tidak ada kepentingan fundamental Sigit melakukan itu. Ada orang besar di belakangnya dan orang itu adalah Jokowi. Jokowi diduga berkepentingan besar terhadap data yang disadap.
Politik sandera berbasis data adalah ciri kepemimpinan Jokowi. Lawan atau teman dibuat tidak berdaya dengan rekaman data itu. Ia tidak memeras uang tetapi kepatuhan.
Melawan dipastikan hilang dari peredaran. Sebaliknya sikap loyal akan dipenuhi segala fasilitas termasuk keamanan jabatan. Gaya Jokowi adalah mementung atau memberi untung. Tapi semua motif jahat.