Jakarta, - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) kembali menggelar job fair untuk memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat. Kali ini, sebanyak 6.000 hingga 7.000 lowongan kerja disiapkan pada 17-18 September 2026.
(Disnakertrans) Jawa Tengah menyiapkan sedikitnya 40 booth perusahaan dalam kegiatan tersebut.
Kepala Disnakertrans Jateng Ahmad Aziz mengatakan, jumlah perusahaan dan lowongan yang tersedia pada job fair kali ini lebih banyak dibandingkan kegiatan sebelumnya yang digelar pada 21-22 Agustus 2026.
"Tempatnya (job fair) di E-Plaza Simpang Lima dengan 40 booth, lebih banyak daripada kemarin. InsyaAllah untuk lowongannya cukup banyak, variasi sektor usahanya juga lebih variatif," kata Aziz saat dikonfirmasi, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, lowongan yang tersedia diperkirakan mencapai 6.000 hingga 7.000 posisi dengan sektor usaha yang lebih beragam. Aziz mengatakan, job fair menjadi salah satu upaya pemerintah mempertemukan pencari kerja secara langsung dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
Selain membuka lebih banyak kesempatan kerja, kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja dari berbagai sektor usaha.
Pendataan hasil job fair
Sementara itu, Disnakertrans Jateng masih melakukan pendataan terhadap hasil job fair yang sebelumnya digelar pada Agustus lalu. Pendataan dilakukan untuk mengetahui jumlah pencari kerja yang berhasil diterima oleh perusahaan peserta. Aziz mengatakan, sebagian pencari kerja pada job fair sebelumnya telah langsung mendapatkan penerimaan dari perusahaan. Namun, sebagian lainnya masih menjalani tahapan seleksi. “Ada beberapa yang kemarin langsung ada penerimaan, tapi ada juga yang langsung tes lalu diumumkan tidak diterima, tetapi data secara rincinya saya belum mendapatkan dari perusahaan itu,” katanya.
Disnakertrans Jateng juga akan meminta evaluasi dari perusahaan mengenai peserta yang belum berhasil lolos seleksi. Evaluasi tersebut akan menjadi bahan untuk meningkatkan kesiapan tenaga kerja di Jawa Tengah.
Dia menilai evaluasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis atau hard skill, tetapi juga keterampilan nonteknis atau soft skill. “Misalnya attitude, kedisiplinannya, komunikasinya atau apanya. Sehingga nanti itu menjadi bahan kami untuk perbaikan ke depan bagaimana menyiapkan tenaga kerja itu baik hard skill maupun soft skill-nya lebih baik lagi,” lanjutnya.