Aksi 27 Agustus Rusuh, HRS: Bubarkan Ormas Preman, Tangkap Pimpinannya

Jakarta, - Mantan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS) melontarkan pernyataan tegas terkait situasi setelah demonstrasi 27 Agustus yang disebutnya diwarnai aksi kekerasan dan dugaan keterlibatan kelompok preman.

Dalam ceramahnya, dia mengaku terkejut setelah mendapat informasi mengenai adanya kelompok yang disebutnya sebagai preman dan diduga melakukan pengejaran terhadap warga hingga ke kawasan permukiman.

Dia menegaskan bahwa sejak sebelum aksi demonstrasi berlangsung, dirinya telah mengingatkan berbagai pihak agar tidak melakukan tindakan yang dapat memicu bentrokan dan kekacauan.

Dia mengatakan, nasihat tersebut telah disampaikan dalam sebuah acara Maulid di Petamburan pada 24 Agustus, sebelum aksi demonstrasi 27 Agustus berlangsung.

Menurutnya, terdapat enam kelompok yang menjadi perhatian dan diberikan nasihat, mulai dari pemerintah, TNI, Polri, DPR, para demonstran, hingga masyarakat umum.

Dia menekankan bahwa menyampaikan pendapat melalui demonstrasi merupakan hak warga negara dan aparat keamanan seharusnya bertugas menjaga keamanan selama aksi berlangsung secara damai.

“Jakarta itu ibu kota. Mau orang dari Surabaya, Kalimantan, Pati, datang ke Jakarta untuk unjuk rasa dan menyampaikan aspirasi, itu hak mereka,” ujar Habib Rizieq

Namun, dia menegaskan bahwa apabila demonstrasi berubah menjadi tindakan perusakan, pembakaran, pembunuhan atau penjarahan, maka penanganannya merupakan tugas aparat keamanan.

Habib Rizieq secara khusus menyoroti dugaan pengerahan kelompok preman dalam situasi tersebut. Dia meminta pemerintah dan aparat terkait untuk mengambil tindakan tegas terhadap organisasi atau kelompok yang terbukti melakukan intimidasi maupun kekerasan terhadap masyarakat.

“Saya minta kepada Bapak Presiden dan menteri-menteri yang terkait, organisasi preman tersebut bubarkan. Hanya mengganggu ketenangan masyarakat,” tegasnya.

Dia juga meminta agar pimpinan kelompok yang terbukti melakukan tindakan kekerasan diproses sesuai hukum.

“Pimpinan premannya tangkap, jebloskan ke penjara,” katanya disambut respons massa.

Dalam ceramahnya, Habib Rizieq turut menyinggung sejumlah dugaan peristiwa kekerasan terhadap warga, termasuk seorang pedagang dan seorang pelajar. Dia mempertanyakan penjelasan mengenai pihak-pihak yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.

Habib Rizieq juga mengaku prihatin dengan adanya konflik yang disebutnya telah merembet ke kawasan permukiman warga.

Dia mengatakan warga memiliki hak untuk menjaga keamanan lingkungan masing-masing dari tindakan kekerasan atau gangguan. Namun, dia juga menyerukan agar persoalan keamanan ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum.

Lebih lanjut, Habib Rizieq mengaku telah memberikan instruksi kepada para laskar dan simpatisannya untuk tidak membiarkan masyarakat menjadi korban tindakan kekerasan.

“Kalau ada preman-preman kurang ajar masuk ke kampung-kampung, mengganggu warga, menculik warga, apalagi sampai menganiaya warga, bangkit lawan,” ujarnya dalam orasi yang disambut takbir oleh massa.

Pernyataan tersebut kembali memantik perhatian publik, terutama terkait sorotan terhadap keamanan pascaaksi demonstrasi 27 Agustus.

Habib Rizieq pun membandingkan penanganan organisasi yang dianggap melakukan tindakan kekerasan dengan pembubaran sejumlah organisasi kemasyarakatan pada masa sebelumnya.

Menurutnya, pemerintah harus bersikap tegas dan tidak membiarkan kelompok mana pun melakukan intimidasi atau kekerasan terhadap masyarakat.

“Organisasi preman dibubarkan, premannya ditangkap,” tegasnya.