Kenaikan kasus tersebut terlihat dalam pemantauan epidemiologi pada minggu ke-27 hingga minggu ke-35 2026. Jumlahnya disebut meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyampaikan bahwa peningkatan kasus ISPA terjadi seiring dengan masuknya musim kemarau di sejumlah wilayah.
"Memasuki awal musim kemarau tahun 2026, kasus ISPA menunjukkan tren peningkatan lebih dari 400 ribu kasus per minggu, dibandingkan dengan minggu yang sama pada tahun 2025," kata Aji, Kamis (20/8) seperti yang dikutip dari detikhealth.
Menurut Aji, peningkatan tersebut tidak selalu berlangsung sepanjang musim kemarau. Kasus ISPA biasanya mulai mengalami penurunan setelah periode puncak musim kemarau terlewati.
Kemenkes merujuk pada pola yang terjadi pada 2025. Saat itu, puncak musim kemarau berlangsung pada pekan ke-32 hingga ke-44. Pada periode tersebut, jumlah kasus ISPA tercatat masih berada pada level tinggi secara konsisten.
"Terlihat bahwa kasus pada minggu tersebut di tahun 2025 menunjukkan tren yang relatif tinggi dan konsisten," tambahnya.
Jawa Barat catat kasus ISPA tertinggi
Selain memantau tren mingguan, Kemenkes juga mencatat jumlah kasus ISPA berdasarkan provinsi sepanjang 2026. Data tersebut dihimpun hingga 15 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB. Berikut lima provinsi dengan jumlah kasus ISPA terbanyak:
1. Jawa Barat: 1.858.779 kasus
2. Jawa Tengah: 1.819.793 kasus
3. DKI Jakarta: 1.241.791 kasus
4. Jawa Timur: 1.007.305 kasus
5. Banten: 637.542 kasus
Data tersebut menunjukkan kasus ISPA masih menjadi salah satu penyakit yang banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, terutama saat kondisi musim turut mendukung peningkatan penularan dan gangguan saluran pernapasan.