"Belum (membuka bantuan negara lain) ya," kata Prasetyo di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8), dilansir Detik.
Prasetyo menambahkan, pemerintah tetap optimistis dapat mengatasi dampak gempa berdasarkan laporan berkala dari lapangan.
Sejumlah kebutuhan mendesak, mulai dari logistik bantuan, hunian sementara (huntara), hingga hunian tetap (huntap), disebut sudah dalam proses penanganan.
"Nanti kita lihat, karena berdasarkan laporan harian yang kami terima dari teman-teman yang memonitor di lapangan, semua masih bisa kita tangani dengan baik," ujar Prasetyo.
Presiden Iran Pezeshkian Berduka atas Gempa NTT, Siap Kirim Bantuan
Ia mengatakan, sejumlah kebutuhan logistik, pengungsian, hingga rencana perbaikan huntara dan huntap sudah dalam proses identifikasi.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan tidak ada lagi warga yang dinyatakan hilang akibat gempa M7 di NTT. Hal ini disampaikan oleh Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
"Tim dari Basarnas masih siaga di tujuh kabupaten terdampak. Hingga saat ini, 17 Agustus, sudah tidak ada laporan warga yang hilang di wilayah terdampak. Namun demikian, tim Basarnas tetap melakukan upaya pencarian dan menerjunkan personel secara optimal di daerah-daerah terdampak," tutur Berton dalam konferensi pers, Senin (17/8).
Berton juga menyebut Kementerian Kesehatan sudah mengirim dua unit rumah sakit lapangan ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Nagekeo.
"Diharapkan rumah sakit ini dapat segera melayani warga yang menjadi korban gempa bumi dan membutuhkan evakuasi," beber Berton.
Berdasarkan data terkini dari BNPB, korban jiwa akibat gempa M7 di NTT mencapai 68 jiwa. Berton mengatakan pihaknya tetap memantau jumlah ini dan melaporkan pembaruan jika ditemukan korban lainnya.