Jakarta, - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump diberitakan diam-diam mengganti pesawatnya saat meninggalkan Turki selepas menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) NATO.
The Washington Post pada Senin (10/8) melaporkan pergantian pesawat dari Air Force One ke pesawat militer berukuran kecil terjadi mendadak karena Trump menerima ancaman pembunuhan dari Iran.
Para pejabat mengatakan kepada CBS News bahwa intelijen AS mendeteksi ancaman Iran bahwa Teheran hendak menembakkan rudal ke pesawat Trump.
The New York Times melaporkan intelijen AS memiliki informasi tentang seseorang yang berada di dekat lokasi KTT NATO membawa rudal yang bisa ditembakkan dari bahu.
Setelah memperoleh informasi ini, Trump langsung diberi pengarahan dan sebuah rencana segera disusun. Penyusunan rencana ini melibatkan sekelompok kecil pejabat tinggi, termasuk ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Dilansir dari The New York Times, setibanya Trump di bandara untuk meninggalkan Turki, sebuah kamera yang telah diposisikan sebelumnya merekam Trump saat naik ke pesawat Air Force One.
Ini pesawat Air Force One lama, yang dipakai Trump sebelum beralih ke pesawat Air Force One baru pemberian Qatar.
Para jurnalis yang bepergian bersamanya hanya sempat melihat sekilas Trump ketika itu. Mereka naik pesawat melalui tangga bawah di bagian belakang.
Sebuah laporan dari tim liputan mencatat bahwa jurnalis diminta menutup tirai jendela di kabin pers saat pesawat lepas landas.
Pesawat Air Force One tua yang membawa para jurnalis ini pun mendarat di pangkalan militer Mildenhall, Inggris, pada pukul 22.16 waktu setempat.
Trump terlihat turun dari pesawat tersebut 40 menit kemudian.
Berdasarkan informasi dua pejabat senior AS kepada The New York Times, tanpa sepengetahuan wartawan, Trump nyatanya tidak menaiki Air Force One jadul tersebut. Dia sebaliknya diantar dengan pesawat militer ke Inggris dan naik ke Air Force One jadul lewat pintu masuk yang berbeda.
Menurut keterangan pejabat, Trump masuk ke dalam kontainer katering saat dipindahkan ke jet militer. Karenanya, jurnalis diminta menutup tirai jendela.
Setibanya di Inggris, Trump sedemikian rupa berjalan menuruni tangga dari pintu kiri atas Air Force One jadul seperti yang biasa ia lakukan.
Usai turun dari Air Force One lama, ia pun berjalan menuju Air Force One baru pemberian Qatar, dengan diamati para pers. Ia dan rombongan pers kemudian naik ke pesawat tersebut untuk terbang kembali ke Washington.
Saat peristiwa itu terjadi, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia mengganti pesawatnya ke yang lama karena ingin "bernostalgia".
Dia juga beralasan agar staf AS di Inggris bisa melihat-lihat Air Force One pemberian Qatar, saat ditanya mengapa ia terbang dengan Air Force One jadul ke Inggris.
Ketika ditanya soal mengapa tirai jendela harus ditutup saat lepas landas, Trump mengindikasikan dirinya sedang di bawah ancaman. Meski begitu, ia menjawab santai dengan menyatakan dirinya memang "orang nomor satu dalam daftar" Iran.
"Saya nomor satu dalam daftar mereka, sebelum kalian. Tapi jika saya pergi, kalian juga pergi. Benar kan?" ucap Trump.
CNN menggarisbawahi episode ini sebagai peristiwa yang membahayakan wartawan dan staf administrasi AS.
Pasalnya, rombongan pers dan staf tidak tahu bahwa Trump tidak ada di pesawat yang mereka tumpangi karena khawatir pesawat itu ditembak Iran.
Meskipun langkah ini dapat dipahami sebagai bentuk perlindungan terhadap presiden, tindakan ini juga berarti bahwa wartawan dan staf dijadikan tumbal oleh pemerintahan Trump.