Kado Pahit Hari Kemerdekaan AS, Dolar AS Takluk dari Mata Uang Asia

[INTRO]

Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi kabar yang kurang menggembirakan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan AS yang ke-250 pada Sabtu. Di tengah momentum perayaan nasional tersebut, mata uang Negeri Paman Sam justru mengalami tekanan di pasar keuangan.

Dari pergerakan 10 mata uang utama di Asia, sebanyak tujuh di antaranya tercatat berhasil menguat terhadap dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap dolar masih berlanjut, sementara sejumlah mata uang Asia mampu memanfaatkan sentimen positif di kawasan.

Pelemahan dolar dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ekspektasi arah kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, serta perubahan sentimen investor. Situasi ini turut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi arus investasi, perdagangan internasional, dan nilai tukar di berbagai negara.

 
 Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pada pagi ini. Ringgit menguat 0,37% ke posisi MYR 4,062/US$.

Rupiah juga ikut bergerak positif. Mata uang Garuda menguat 0,28% ke posisi Rp17.938/US$. Posisi ini membuat rupiah menjauh dari level psikologis Rp18.000/US$ setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada sangat dekat dengan level tersebut.

Won Korea Selatan turut menguat 0,16% ke posisi KRW 1.537,6/US$, disusul yuan China yang naik 0,14% ke CNY 6,779/US$.

Baht Thailand juga menguat 0,12% ke posisi THB 33,16/US$, peso Filipina naik 0,07% ke PHP 61,389/US$, sementara dolar Singapura menguat tipis 0,05% ke SGD 1,291/US$.

Namun, tidak semua mata uang Asia mampu menguat. Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam termasuk juga mata uamg Yen  mengalami pelemahan dari mata uang Asia lainya.