Jakarta, - Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bahwa berada dibelakang peristiwa penembakan seorang pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat hingga tewas.
Selain itu, mereka juga mengklaim telah membakar sebuah pesawat sipil di Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis (2/7/2026).
Dalam siaran pers yang diterima, Kamis kemarin, Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom menyebut aksi tersebut dilakukan oleh pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo.
Kelompok itu mengidentifikasi pilot yang menjadi korban sebagai Nichloas F Goselin, warga negara Amerika Serikat.
TPNPB juga mengklaim telah membakar satu unit pesawat milik PT AMA. Menurut kelompok tersebut, tindakan itu dilakukan karena pesawat sipil dinilai melanggar ultimatum yang sebelumnya dikeluarkan TPNPB terkait larangan aktivitas penerbangan di wilayah yang mereka sebut sebagai daerah operasi.
Dalam pernyataannya, TPNPB menuduh pesawat-pesawat sipil kerap digunakan untuk mengangkut personel serta logistik militer Indonesia ke wilayah pedalaman Papua yang menjadi lokasi operasi keamanan.
“Seluruh wilayah operasi TPNPB di 36 Komando Daerah Pertahanan di seluruh Tanah Papua dengan tegas melarang aktivitas penerbangan karena pesawat-pesawat sipil selalu melakukan penerjunan pasukan dan logistik militer Indonesia di pedalaman Papua untuk melakukan operasi militer yang telah menewaskan banyak warga sipil orang Asli Papua,” kata Sebby.
Panglima TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Brigjen Elkius Kobak, sebagaimana dikutip dalam siaran pers tersebut, mengklaim penembakan terhadap pilot dilakukan atas perintahnya.
Dia menyatakan kelompoknya sebelumnya telah mengeluarkan larangan bagi pesawat sipil memasuki wilayah operasi TPNPB di Yahukimo.
TPNPB juga menyampaikan seruan kepada pemerintah Amerika Serikat, Belanda, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan Pemerintah Indonesia agar membuka ruang perundingan internasional untuk menyelesaikan konflik di Papua yang menurut mereka telah berlangsung selama puluhan tahun.
Selain itu, kelompok tersebut kembali memperingatkan maskapai dan pilot sipil agar tidak memasuki wilayah yang mereka kategorikan sebagai zona operasi.
TPNPB mengancam akan melakukan tindakan serupa terhadap pesawat sipil yang dianggap membantu distribusi personel maupun logistik militer Indonesia di Papua.