Buntut Kuota Produksi Dipangkas, Badai PHK Mulai Hajar Sektor Tambang

Jakarta, - Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) melaporkan bahwa badai pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menerjang perusahaan anggotanya imbas pemangkasan produksi komoditas mineral dan batu bara (minerba) dalam RKAB 2026.

Ketua Dewan Penasehat Perhapi Rizal Kasli mengatakan ada beberapa perusahaan yang sudah melakukan PHK, terutama di sektor nikel dan batu bara. Namun, jumlah rincinya masih dalam pendataan.

"Di lapangan sudah terjadi PHK di beberapa perusahaan. Kami mencatat ada beberapa perusahaan yang sudah melakukan PHK baik di batu bara, maupun nikel," ujar Rizal kepada CNNIndonesia.com, Rabu (3/6).

Meski begitu, dia belum bisa menyampaikan jumlah pastinya karena masih dalam pendataan lebih lanjut. Hanya saja dipastikan PHK sudah mulai terjadi.

"Perlu dilakukan penelitian langsung terhadap beberapa perusahaan yang telah melakukan PHK akibat masalah RKAB dan pengurangan quota produksi ini," tegasnya.

Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi Ardhi Ishak Koesen sebelumnya memperkirakan pemangkasan produksi dalam RKAB 2026 tersebut berisiko membuat 50 ribu tenaga kerja industri jasa pertambangan terancam PHK dan sekitar 20 ribu alat berat terpaksa berhenti beroperasi.

Ardhi mencontohkan suatu perusahaan jasa pertambangan seperti PT Pamapersada Nusantara (PAMA) mampu memproduksi 100 juta-110 juta ton batu bara dengan sekitar 24 ribu karyawan dan 5.000 unit alat berat.

Jika pemerintah memangkas produksi batu bara menjadi 600 juta ton pada tahun ini dari realisasi 2025 sebesar 790 juta ton dan mengasumsikan seluruh perusahaan jasa pertambangan memiliki ukuran seperti PAMA, Ardhi mengkalkulasi akan terdapat 50 ribu karyawan terkena dampak dan 10.000 alat berat mangkrak.

"Kalau 190 dipotong, berarti kalau saya asumsikan dengan size PAMA tadi itu, berarti akan ada sekitar 50 ribu minimal, 50 ribu karyawan yang akan terdampak, dan ada sekitar 10.000 alat berat yang akan berhenti operasi," kata Ardhi dalam rilis Perhapi, Rabu (11/2) lalu.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya memastikan akan memangkas target produksi bijih nikel, batu bara, dan mineral lainnya pada tahun ini.

Produksi batu bara bakal dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton atau setengah dari persetujuan RKAB 2025 sebesar 1,2 miliar ton.

Selain itu, target produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 juga dipangkas menjadi 250 juta ton, merosot lebar dari target produksi 2026 sebanyak 379 juta ton.