-
Berita viral Jatuhnya Rafale tidak hanya akan merusak prestise militer buatan Perncis , tapi juga menandakan kesalahan perhitungannya dalam menilai peningkatan kekuatan udara Pakistan, khususnya kemampuan jet J-10C yang dipasok China. J-10C ini yang disebut mengalahkan Rafale.
Ternyata saat ini Perang India vs Pakistan tidak hanya menjadi konflik kedua negara. Konflik ini juga menjadi ajang uji coba teknologi militer dari negara-negara besar seperti China, Amerika Serikat, Rusia hingga Israel.
Konflik India vs Pakistan tidak hanya soal dua negara bertetangga yang berseteru, tetapi menjadi cermin perubahan tatanan global dan arena uji coba kekuatan teknologi militer antara Barat dan Timur.
Dunia dibuat penasaran bukan hanya untuk melihat siapa menang tetapi untuk membaca peta kekuatan militer dan geopolitik masa depan.
India menggunakan jet tempur Rafale buatan Prancis dan sistem pertahanan S-400 buatan Rusia.
Pakistan, yang dulunya mengandalkan persenjataan Barat, kini beralih ke teknologi China, termasuk jet tempur buatan Beijing.
Dalam aksinya, Pakistan menggunakan jet tempur buatan China, Chengdu J-10C, yang dijuluki sang pembantai di angkasa, seperti dikutip dari laman The National Interest, Jumat (9/5).
Konflik ini melibatkan drone kamikaze dan loitering munitions, teknologi militer modern yang memungkinkan drone mengincar target secara presisi lalu menyerang layaknya rudal jelajah.
China, Rusia, Israel, Amerika Semua Mengamati
Dalam konflik Pakistan vs India, China ingin melihat seberapa baik performa jet dan rudalnya yang digunakan Pakistan.
Rusia memantau kinerja sistem pertahanan udaranya yang digunakan India. Sementara itu, Israel, yang menjadi mitra pertahanan India, juga turut mencermati.
Pakistan memang sejak lama memiliki hubungan bersahabat dengan China, namun kini China telah menjadi negara yang jauh lebih kuat dibandingkan era 1970-an ketika hubungan kedua negara baru tumbuh.
India, yang dulunya tergabung dalam gerakan non-blok, secara implisit lebih dekat ke Rusia. Kini, India semakin menjalin kedekatan dengan Barat (AS dan Eropa) dan juga merupakan mitra Israel.
Militer China Mulai Ancam Dunia
Konflik yang memanas antara India dan Pakistan kini bisa menjadi momen pertama bagi dunia untuk melihat secara nyata bagaimana kinerja teknologi militer China yang canggih.
Pasalnya, teknologi tersebut belum teruji sementara sebaliknya perangkat militer Barat sudah teruji di banyak perang.
Sebagai pemasok utama senjata Pakistan, China kemungkinan mengamati dengan sangat cermat untuk mengetahui bagaimana sistem persenjataannya telah - dan mungkin akan - tampil dalam pertempuran nyata.
Jet Tempur buatan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) J-10 milik Pakistan. (Tangkapan Layar Youtube/Pakistan Air Force)Foto: Jet Tempur buatan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) J-10 milik Pakistan. (Tangkapan Layar Youtube/Pakistan Air Force)
Jet Tempur buatan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) J-10 milik Pakistan. (Tangkapan Layar Youtube/Pakistan Air Force)
Saham AVIC Chengdu Aircraft, produsen pesawat tempur asal China, melonjak 40% minggu ini.
Saham melonjak setelah Pakistan mengklaim telah menggunakan jet tempur J-10C buatan AVIC untuk menembak jatuh pesawat tempur India, termasuk jet tempur Rafale buatan Prancis dalam pertempuran udara pada hari Rabu.
J-10C adalah versi terbaru dari jet tempur J-10 bermesin tunggal milik China, yang mulai digunakan Angkatan Udara China pada awal 2000-an.
Dengan sistem senjata dan avionik yang lebih canggih, J-10C diklasifikasikan sebagai jet tempur generasi 4.5 - setara dengan Rafale, tapi satu tingkat di bawah jet siluman generasi ke-5 seperti J-20 China atau F-35 AS.
-
Sebagai kekuatan militer yang sedang naik daun, China belum pernah terlibat perang besar selama lebih dari empat dekade. Tetapi di bawah kepemimpinan Presidenn Xi Jinping, Beijing telah melakukan modernisasi besar-besaran pada angkatan bersenjatanya, menuangkan sumber daya untuk mengembangkan senjata canggih dan teknologi mutakhir.
Modernisasi ini juga diperluas ke Pakistan, yang oleh Beijing dijuluki sebagai "saudara baja". Dalam lima tahun terakhir, China telah memasok 81% dari senjata impor Pakistan.
Ekspor tersebut mencakup jet tempur canggih, rudal, radar, dan sistem pertahanan udara yang menurut para ahli akan memainkan peran penting dalam konflik militer antara Pakistan dan India.
Beberapa senjata buatan Pakistan juga dikembangkan bersama perusahaan China atau dibuat menggunakan teknologi dan keahlian China.
Keunggulan "Vigorous Dragon"
J-10C melakukan penerbangan perdananya pada tahun 1998 dan mulai digunakan PLAAF pada tahun 2004. Pesawat ini dikonfigurasikan dengan sayap delta dan desain canard yang membedakannya dari MiG-29 Rusia atau F-16 Angkatan Udara AS.
Namun, tidak seperti Mirage, J-10 memiliki dua canard tepat di belakang kokpit – dan ini memberikan kemampuan manuver yang lebih baik. Pesawat ini juga dilengkapi kontrol fly-by-wire.
"Ini menjadikan setiap bentrokan antara India dan Pakistan sebagai lingkungan uji coba de facto bagi ekspor militer China," kata Sajjan Gohel, direktur keamanan internasional di Asia-Pacific Foundation, sebuah lembaga think tank yang berbasis di London, dikutip CNN International.