Balas China, Unjuk Kemampuan Taiwan Juga Latihan Militer

Taiwan, - Taiwan menggelar latihan militer sebagai bagian unjuk kemampuan melawan tekanan China. Hal itu dilakukan menyusul putaran baru latihan militer yang dirasa mengancam dari China.

Latihan yang diadakan pada Rabu 17 Agustus 2022 di daerah tenggara Hualien sebagai tanggapan dari penembakan rudal dan serangan ke laut serta wilayah udara Taiwan oleh Tentara Pembebasan Rakyat sayap militer Partai Komunis China yang berkuasa.


"Kami sangat mengutuk provokasi militer China yang terus menerus di sekitar laut dan udara Taiwan yang merusak perdamaian regional," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Taiwan Sun Li-fang kepada wartawan di Pangkalan Angkatan Udara Hualien dikutip dari AP, Jumat (19/8/2022)

"Operasi militer komunis China hanya memberi kami kesempatan untuk pelatihan kesiapan tempur," tambahnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Taiwan Joanne Ou menegaskan bahwa China menggunakan kunjungan anggota Congress Amerika Serikat (AS) termasuk Ketua DPR AS Nancy Pelosi sebagai dalih untuk meningkatkan upayanya mengintimidasi Taiwan agar menerima penyatuan kembali pulau tersebut secara damai.

Dia mengatakan bahwa China menunjukkan sikap yang tidak masuk akal dan biadab. Hal itu juga dianggap merusak stabilitas regional dan mengganggu pelayaran dan kegiatan komersial di kawasan Indo-Pasifik.

Sementara itu China selama ini menilai negara pulau itu sebagai provinsi yang memisahkan diri dan akan dianeksasi secara paksa jika perlu. Pun menganggap kunjungan ke Taiwan oleh pejabat asing sebagai pengakuan kedaulatannya.

Di samping ancaman militernya, China memberlakukan larangan visa dan sanksi lainnya pada Selasa, 16 Agustus 2022, terhadap tokoh politik Taiwan. Padahal China tidak menjalankan otoritas hukum yang efektif atas Taiwan sehingga tidak jelas apa dampak sanksi tersebut.

Beijing juga telah menolak semua kontak dengan pemerintah Taiwan sejak pemilihan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik pro-kemerdekaan pada 2016. Tsai kemudian terpilih kembali jadi presiden pada tahun 2020.

China kemudian menuduh Washington mendorong kemerdekaan pulau itu melalui penjualan senjata dan keterlibatan antara politisi AS dan pemerintah pulau itu.

Tetapi AS mengatakan tidak mendukung kemerdekaan dan tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan pulau itu. Namun secara hukum terikat untuk memastikan Taiwan dapat mempertahankan diri terhadap ancaman dari China, termasuk blokade.

Selain menempatkan militernya dalam siaga, Taiwan sebagian besar telah mengecilkan ancaman dari latihan Tiongkok. Kehidupan di pulau itu juga tetap berlanjut seperti biasa meski di bawah bayang-bayang retorika perang dari Tiongkok selama lebih dari tujuh dekade.