Dokter Sesali Pemberian Antibiotik Spektrum Luas Pada Pasien COVID-19

law-justice.co - Para pasien yang membanjiri ruang gawat darurat di Detroit Medical Center pada bulan Maret dan April, menunjukkan gejala virus corona yaitu demam tinggi dan paru-paru penuh infeksi yang membuat mereka terengah-engah.

Dari beberapa pengobatan yang ada, dokter memilih untuk intervensi dengan memberikan antibiotik spektrum luas, tindakan coba-coba yang sering digunakan untuk melawan infeksi bakteri yang tidak dapat segera diidentifikasi, hal yang kemudian disesali di kemudian hari. 

Baca juga : Kata Ahli soal AstraZeneca Akui Ada Efek Samping Langka pada Vaksinnya

Mereka tahu antibiotik tidak efektif melawan virus, tetapi mereka khawatir pasien bisa rentan terhadap infeksi bakteri sekunder yang mengancam jiwa.

"Selama lonjakan puncak, penggunaan antibiotik kami tidak sesuai," kata Dr Teena Chopra, Direktur Epidemiologi dan Penatalayanan Antibiotik rumah sakit, dilansir dari New York Times.

Baca juga : Fadel Muhammad Dicecar KPK Soal Kurang Bayar di Kasus APD Covid-19

Dia dan dokter lain di seluruh Amerika Serikat yang secara bebas memberikan antibiotik pada minggu-minggu awal pandemi mengatakan, mereka telah menyadari kesalahan mereka.

Sekarang, para dokter di seluruh negeri berusaha untuk mengambil pelajaran dari penggunaan antibiotik yang berlebihan, suatu praktik yang dapat memacu resistensi terhadap obat-obatan yang menyelamatkan jiwa karena bakteri bermutasi dan mengakali obat-obatan. 

Baca juga : Import MoLis Makin Dipermudah Masuk RI Jalanan Bak Neraka

Resistensi antimikroba adalah ancaman yang meningkat, dan diklaim telah mengambil 700.000 nyawa setiap tahun