Pakar Komunikasi Ungkap Pesan Lain dari Kemarahan Jokowi ke PLN

Jakarta, - Pengamat komunikasi Agus Sudibyo mengatakan bahwa aksi Presiden Joko Widodo yang terlihat marah terhadap direksi PT PLN Persero dinilai sudah tepat.

Agus menilai, ekspresi Jokowi yang terkesan marah dan jengkel telah mewakili perasaan masyarakat yang dirugikan atas peristiwa itu.

"Ini, kan, masalahnya memang krisis betul, memang gawat betul. Jadi, saya kira wajar Pak Presiden itu menunjukkan keseriusannya dengan datang langsung ke kantor PLN dan menunjukkan kemarahannya," kata Agus seperti dilansir dari Kompas.com, Selasa (6/8/2019).

Agus menuturkan, kemarahan Jokowi terlihat jelas tak hanya dari raut muka dan bahasa tubuh, tapi juga pernyataan Jokowi di hadapan direksi PLN.

"Beliau juga bilang kan, masalah ini kok enggak selesai-selesai. Dulu sudah pernah terjadi. Beliau kan bilang begitu. Nah itu sudah jelas sekali sebenarnya pesan beliau apa," kata Agus.

Direktur Indonesia New Media Watch tersebut menilai, justru publik akan bertanya-tanya bila Jokowi tidak bergerak dan mengeluarkan statement yang mewakili keresahan publik itu.

Namun, Agus berpendapat, aksi Jokowi itu harus dibarengi dengan perbaikan dari pihak PLN. Menurut dia, publik kini menunggu efek kemarahan Jokowi terhadap kinerja PLN.

"Jangan sampai Pak Jokowi sudah turun ke lapangan, sudah menunjukkan ekspresi kejengkelannya, terus PLN tetap gitu-gitu aja," ujar Agus.

Presiden Jokowi sebelumnya mendatangi kantor pusat PT PLN pada Senin (5/8/2019) pagi. Di kantor pusat PLN itu, Presiden mendengar penjelasan Plt Dirut PLN Sripeni Inten Cahyani.

Seusai mendengarkan penjelasan yang berlangsung selama sekitar 10 menit, Jokowi menunjukkan kekesalannya. Dia mengatakan, penjelasan Dirut PLN terlalu panjang.

Kepala Negara meminta PLN segera menangani persoalan pemadaman listrik ini dan memastikan kejadian serupa tak terulang. Setelah memberikan tanggapan, Jokowi dan rombongan langsung meninggalkan gedung PLN. Bahkan, mantan Gubernur DKI ini tak menyampaikan sepatah kata pun kepada wartawan.