Pensiun Dini, Mayor Inf Sulaiman Kritik Buat Komandan

[INTRO]

Mayor Inf Sulaiman Hardiman membuat geger dunia maya lewat akun Instagramnya. Pasalnya dia menulis tentang pengunduran dirinya dari keanggotaan prajurit TNI AD. Di dalam tulisan tersebut, Mayor Inf Sulaiman Hardiman menitipkan pesan berupa kritik bagi para komandan di TNI AD untuk memajukan matra TNI AD.
Ini tentu mengagetkan karena Hardiman Sulaiman sudah 16 tahun berkarier di dunia militer.

Pensiun dininya ini ternyata memantik para rekan dan netizen berkomentar di akun Instagramnya. Banyak spekulasi beredar mengenai pengunduran dirinya dari dunia militer. Melansir berita sebelumnya dari Grid.ID, Mayor Inf Sulaiman Hardiman pensiun dini dari jabatannya sebagai Kasi Ren Ops Lat Bag Lat Rindam XVII Cenderawasih.

Banyak yang berasumsi bahwa keputusannya ini diambil karena konflik internal dan semacamnya. Tapi Sulaiman Hardiman memiliki jawaban tersendiri untuk hal ini.

Melalui unggahan di akun Instagramnya, @sulaiman_hardiman menyebutkan bahwa ia memang bercita-cita untuk pensiun dini di usia 40 tahun. Melalui keterangan foto yang diunggahnya pada Selasa (4/6/19), ia menjelaskan dengan gamblang alasan di balik keputusannya itu.

Sosok dari Sulaiman Hardiman ini terlihat sangat dekat dengan keluarganya.Ia begitu akrab dan dekat dengan anak-anaknya.Hal ini terlihat di beberapa unggahannya bersama sang anak.

Selain itu, sosok Sulaiman Hardiman juga memiliki hobi unik layaknya anak muda.Ia sangat suka menjelajah menggunakan sepedanya. Selain itu, ia jua menggeluti fotografi.

Dilansir Grid.ID dari laman Instagram pribadinya, Mayor Inf Sulaiman tampak berpamitan dari jabatannya sebagai TNI Angkatan Darat. Mayor Inf Sulaiman mengunggah foto dirinya beserta istri dan anaknya yang bertuliskan kata pamit. Dari kolom keterangan unggahan tersebut juga tampak mengumumkan keputusannya untuk pensiun dini.

"Mohon diri dan pamit kami sekeluarga (Anak laki kami tdk ikut, anak2 sahabat saya ikut nimbrung). 16 tahun lebih berdinas di angkatan darat, inilah hari terakhir kami berdinas aktif," tulis @sulaiman_hardiman, Sabtu (1/5/2019).

Selanjutnya Mayor Inf Sulaiman juga mengungkap kenangan dan pengalaman yang luar biasa, namun tidak menjelaskan alasan pensiun dini.

"Pengalaman yg luar biasa bersama saudara2 dan sahabat2 terbaik saya tentu banyak memberikan pembelajaran. Banyak yg bertanya mengapa kami pensiun dini, namun pertanyaan itu tdklah penting utk dijawab mengingat struktur berpikir setiap orang berbeda sehingga apapun pilihan bait utk menjelaskan hal itu, tdk dpt memuaskan dahaga kepo semua orang. Rasa hormat kami yg tulus dan terima kasih kepada para saudara2ku, para senior, dan TNI Angkatan Darat," terangnya.

Tak hanya itu, Mayor Inf Sulaiman juga memberikan pesan kepada para Komandan Batalyon. Dia yang pernah menjabat sebagai Danyonif RK 753/AVT memberikan pesan khusus untuk para Komandan Batalyon (Danyon).

"Pesan utk para Komandan Batalyon. Jabatan Danyon adalah simbol kehormatan bagi setiap prajuritnya. Satu paket dgn tunggul/bendera batalyon, bedera perang, prestasi, sejarah & tradisi satuan. Danyon tdk akan pernah menjadi dirinya sendiri karena seperti apa tindak tanduk & pikirannya harus berlandaskan serta selaras dgn kehormatan satuan itu sendiri," tulis Mayor Inf Sulaiman.

Tak berhenti sampai di situ, Mayor Inf Sulaiman juga mengungkap tantangan yang bakal dihadapi pemilik jabatan Danyon.

"Engkau harus siap “dimusuhi” anggotamu karena mereka harus kau latih dgn keras agar tdk terjadi korban sia2. Engkau harus siap “berdebat” dgn atasanmu karena engkau yg lebih tau kondisi prajurit dgn segala kekurangan & kelebihannya. Tdk ada satuan manapun yg benar2 ideal & terkadang ada atasan anda yg karena kesibukannya, tdk terlalu paham akan itu".

"Dan tentunya engkau harus jagoan karena bila prajuritmu jagoan sejati, dia hanya akan loyal kepada jagoan sesungguhnya. Singa tidak akan pernah loyal kepada domba, domba yg banyak gaya dan berisik pasti akan dimakan oleh singa," lanjutnya.

Tak cukup sampai di situ, Mayor Inf Sulaiman juga mengatakan seorang Danyon bakal dihadapkan dengan banyak tantangan berupa pelanggaran dan anggaran.

"Tantanganmu, pelanggaran. Bila prajurit di dlm wewenang komandomu, maka awasi dgn sebaik2nya & jaga kedisiplinannya, bertanggungjawablah bila mereka melakukan pelanggaran. Jangan sakit hati saat kamu sudah total namun mereka masih ada yg melanggar, mereka masih belia dan baru lepas dari orang tuanya, bersabarlah".

Bila mereka melanggar tapi diluar wewenang komandomu, jangan mau dipersalahkan. Jangan membiarkan orang yg tdk ksatria melepaskan tanggung jawabnya. Di tempat prajuritmu di BPkan, Komandan setempat hanya mau menerima uang Kodal tetapi tdk melaksanakan Kodal dgn baik. Para pengecut itu bisanya cuci tangan & menyalahkan orang lain," lanjutnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan jumlah anggaran untuk atu tahun untuk satuan tempur (Satpur). Menurutnya untuk satuan tempur dgn jumlah prajurit 1.039 orang adalah Rp3,6M.

"Itu adalah uang yg sangat kecil, dihadapkan pada kehormatan dan martabat keluarga besarmu di kampung sana yg sangat tdk ternilai itu. Jangan pernah tergoda, Danyon itu gak ngelirik apalagi tergoda ama uang receh".

Bila kamu berpikir uang 3,6 M itu sangat besar dan tergoda utk “mengakali” nya lalu mengabaikan prajuritmu, Kamu adalah Danyon recehan. Selamat berjuang sahabat2ku, kini nasib para prajurit dan keluarganya berada ditangan kalian. Jadilah Danyon yg terhormat ," pungkasnya.

Sumber: Tribun