Kelas Pekerja, Bar, dan Minuman Keras

- Kebiasaan untuk menghabiskan waktu di klub-klub malam merupakan tradisi yang baru dilakoni pada awal abad ke-20. Ketika itu, Antara 1900-1920, kelas pekerja Amerika kerap berkumpul di juke joint dan honky-tonk.

Kedua tempat ini sejatinya  merupakan bar yang kerap didatangi kelas pekerja untuk minum alkohol, berjudi, mendengarkan musik, menari, bahkan  berfungsi juga sebagai pusat prostitusi. Sementara, klub malam pertama di Amerika Serikat akhirnya mewujud pada 1912 di sebuah ruang bawah tanah Hotel Gruenwald (kemudian menjadi Roosevelt Hotel) di kawasan New Orleans.

Dalam waktu singkat, pamor klub-klub malam terus melejit bersamaan dengan popularitas musik Ragtime dan Jazz. Tempat hiburan malam ini juga menjadi panggung utama tarian sosial moderen dan menjadi simbol  kehidupan malam sebagai tempat berkencan favorit muda-mudi. Tak hanya itu klub malam juga menjadi tempat hiburan yang multi fungsi karena menyediakan berbagai fasilitas seperti yang dimiliki kafe, restoran, tempat dansa, kabaret,  dan teater.

Sayang ketika sedang merangkak naik,  kiprah klub-klub malam di Amerika Serikat tiba-tiba meredup. Penyebabnya, diterbitkannya aturan pelarangan minuman keras (prohibition) pada 1919 dan secara resmi diberlakukan  setahun kemudian. Tentu saja, setelah peraturan ini berlaku banyak tempat hiburan malam yang membatasi atau bahkan menutup usahanya. Namun efek negatif dari peraturan itu bagi bisnis klub-klub malam tidak berlangsung lama.

Pada pertengahan 1920-an, tempat-tempat hiburan semacam itu bermunculan kembali. Sebagian berstatus klub-klub pribadi yang hanya dapat dikunjungi oleh para anggota dan orang-orang yang telah dikenal baik oleh para pemiliknya.

Di klub-klub malam semacam inilah para penunjung tetap dapat menikmati segala jenis produk minuman keras yang dilarang pemerintah pada saat itu. Periode ini juga—sepanjang peraturan pelarangan minuman keras itu berlaku— ditandai dengan penggunaan  istilah club yang tetap dipakai hingga sekarang untuk merujuk pada klub malam.

Memasuki dasawarsa 1930, klub-klub malam di Amerika Serikat semakin menjamur. Pasalnya, Presiden Roosevelt menyetujui untuk   menandatangani Volstead Act —dikenal pula dengan nama Cullent-Harrison Act— pada 23 Maret 1933. Peraturan ini sendiri memperbolehkan diproduksi dan dipasarkannya kembali minuman keras dengan kadar alkohol yang terbatas.

Minuman Keras, salah satu sajian yang paling diminati para pengunjung Stork Club (flashbak)

Sejak saat itu di berbagai kota di negeri Pam Sam, bermunculan klub-klub malam yang kemudian menjadi sangat  tenar. Di New York, misalnya, sampai sebelum Perang Dunia II, terdapat  Stork Club, 21 Club, El Morocco, dan Copacabana yang kerap menyajikan penampilan langsung big bands, namun belum mengenal DJ.

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, terutama sejak memasuki dekade 1950-an, pamor club kembali terangkat bersama popularitas musik Bebop, Rhythm, Blues dan Rock and Roll. Lavis Club yang berdiri di antara kasino-kasino di Las Vegas menjadi contoh klub malam yang hampir tak pernah sepi di sepanjang dasawarsa ini.

Cotton Club, klub malam yang populer di kalangan kulit putih AS pada dekade 1950-an (pinterest)

Begitu juga dengan kota-kota lain di Amerika, seperti Harlem yang memperkenalkan Cotton Club dan Connie’s Inn tempat hiburan malam  populer di kalangan pengunjung kulit putih. Sementara pada permulaan 1960-an, seiring dengan kebangkitan kembali musik Folk,  klub-klub malam pun bermunculan di San Francisco, Greenwich Village, Cambridge, dan Massachusetts. (bersambung)

Tags: |