Dilarang Bawa HP ke Sekolah, Siswa SD Sikka Meninggal Gantung Diri

Jakarta, - Siswa kelas 5 Sekolah Dasar berusia 12 tahun berinisial AP di Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) nekat gantung diri diduga karena kecewa tidak diberi telepon seluler atau handphone oleh ibu kandungnya untuk dibawa ke sekolah.

"Berdasarkan informasi awal yang diperoleh, kejadian tersebut diduga berkaitan dengan persoalan permintaan telepon genggam (HP) oleh korban kepada ibunya untuk dibawa ke sekolah. Namun, permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh ibu korban," kata Kapolres Sikka, AKBP. Bambang Supeno dalam keterangannya melansir dari CNNIndonesia.com, Kamis (22/10).

Menurut Bambang, hasil pendalaman mengungkap dugaan korban merasa kecewa dan nekat bunuh diri dengan cara menggantung diri akibat permintaannya membawa HP ke sekolah tak dipenuhi oleh ibunya.

Bambang menyampaikan pendalaman dilakukan aparat Polres Sikka dan Polsek Nita dengan meminta keterangan dari pihak sekolah, teman kelas korban dan aparat desa, pada Rabu (21/10).

Dari keterangan yang disampaikan kepala SDN Lirikelang yakni Hendrikus Hewer, pihak sekolah tidak pernah mewajibkan peserta didik untuk membawa HP ke sekolah.

Selain itu, selama sepekan terakhir korban menunjukkan perilaku yang baik dan tidak mencurigakan. Ia beraktivitas seperti biasa selama kegiatan belajar, baik saat berinteraksi dengan teman-temannya maupun saat berada dalam kelas.

"Pihak sekolah tidak mewajibkan murid membawa HP ke sekolah dan tidak ada kurikulum yang mewajibkan peserta didik membawa HP. Korban saat berada di lingkungan sekolah selalu berperilaku baik dan beraktivitas seperti biasa layaknya anak-anak seumurannya," ujar Bambang menguraikan keterangan dari kepala SDN Lirikelang.

Kepala sekolah juga, kata Bambang, membantah korban AP mendapat perundungan atau bullying di sekolah.

"(Keterangan dari kepala sekolah) selama bersekolah korban tidak pernah mendapat perundungan," jelas Bambang.

Menurut Bambang, pengakuan serupa juga disampaikan Ambrosius Maksi, Wali Kelas korban AP saat memberi keterangan.

"Pemantauan secara langsung oleh wali kelas terhadap korban selama satu minggu terakhir, yang bersangkutan (korban AP) beraktivitas seperti biasa dan tidak menunjukkan perilaku yang menonjol dan mencurigakan," jelas Bambang.

Aparat juga melakukan pendalaman terhadap teman sebangku korban di kelas yakni SM (12). SM juga menyampaikan korban AP tidak pernah bercerita tantang masalahnya ataupun mengeluhkan sesuatu. 

"Sejak hari sebelumnya sampai dengan kemarin (Selasa 21/10) korban tidak menunjukkan perilaku keseharian yang mencurigakan," kata Bambang mengulangi keterangan SM.

Bambang menyampaikan pihaknya juga telah menyambangi Kepala Dusun Lirikelan untuk mendalami motif korban AP nekat gantung diri.

Menurut Bambang komunikasi dengan pihak keluarga korban tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui Kepala Dusun setempat.

Hal tersebut dengan mempertimbangkan kondisi psikologis keluarga yang sedang mengalami kedukaan, sehingga proses komunikasi dilakukan dengan kepala dusun.

AP ditemukan tewas gantung diri di dapur rumahnya di Dusun Lirikelang, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, Kabupaten. Sikka, NTT pada Selasa (20/10) malam sekitar pukul 21.13 wita.

Korban pertama kali ditemukan oleh ibu kandungnya yakni Anastasia Jupita (33) dalam kondisi tergantung di tiang pada atap dapur menggunakan tali rafia warma hitam.

Ibu korban menyampaikan pada Selasa (20/10) sekitar pukul 19.00 saat itu sedang menidurkan adik korban yang berusia 5 tahun. Setelahnya ibu korban bangun sekitar pukul 21.00 lalu menuju ke dapur dan mendapati korban telah gantung diri.

Disampaikan Bambang dari keterangan ibu korban juga menyampaikan bahwa pada Selasa (20/10) sekitar pukul 07.00 wita, korban sempat meminta kepada ibunya telepon seluler untuk dibawa ke sekolah. Tapi permintaan tersebut tidak dipenuhi.

"Sekitar pukul 07:00 wita, korban meminta handphone kepada ibu korban atau saksi satu untuk di bawah ke sekolah, namun tidak diperbolehkan oleh ibu korban," beber Bambang mengulangi keterangan ibu korban.