Jakarta, - Demonstrasi di Prancis sejak September hingga saat ini hingga ribuan orang ditangkap, tidak memiliki sosok atau kelompok dominan yang menggerakkan.
Demonstrasi yang berujung kerusuhan itu pun mulai membuat Presiden Prancis Emmanuel Macron kerepotan. Perdana Menteri Sebastian Lecornu menyebut negaranya sedang lelah.
"Ini adalah momen kelelahan di negara ini," katanya, pada Kamis (15/10).
"Kita berada dalam suasana krisis yang terus-menerus: perang, inflasi, dan masalah seputar daya beli," tambahya.
Laporan CNN memperkuat pernyataan tersebut. Para pengunjuk sebagai bagian dari protes nasional yang diserukan oleh gerakan "Rompi Kuning" melawan biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar, yang diikuti oleh siswa sekolah menengah dan universitas Prancis, guru dan orang tua yang menuntut kondisi sekolah yang lebih baik dan tindakan pemerintah, serta serikat pekerja, buruh, petani dan pensiunan.
Krisis saat ini telah mempolarisasi masyarakat yang sudah sangat terpecah belah. Selain keterpurukan dan kemarahan atas kekacauan, juga suasana pesimisme.
Dalam jajak pendapat Ipsos-BVA baru-baru ini , 85 persen responden mengatakan bahwa Prancis sedang mengalami kemunduran, dan 98 persen tidak puas dengan keadaan negara saat ini.
Siapa pun yang memerintah Prancis selanjutnya akan memiliki ruang gerak yang semakin sempit, bahkan jika mereka mampu membentuk koalisi yang stabil.
Ekonomi Prancis mengalami stagnasi. Para petani terpukul oleh musim panas yang sangat panas dan kering, sementara harga energi global memicu inflasi.
Sektor pariwisata tetap menjadi sumber pendapatan utama bagi Prancis, tetapi video-video kekerasan di jalanan yang tersebar di seluruh dunia dalam dua hari terakhir mungkin akan membuat sebagian wisatawan enggan berkunjung.
Dunia bisnis, Prancis waspada terhadap ketidakpastian dan keraguan. Investasi telah turun sekitar 1% pada semester pertama tahun ini di tengah kenaikan suku bunga.
"Prancis memiliki salah satu beban utang pemerintah tertinggi di Eropa, dan kebuntuan politik berarti kami memperkirakan tingkat utangnya akan terus meningkat," kata para peneliti di Oxford Economics pada bulan Juli, dikutip CNN.
Menurut para analis, Prancis harus menerbitkan obligasi jangka menengah dan panjang senilai €340 miliar tahun depan, jumlah tertinggi sepanjang sejarah. Rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Prancis meningkat menjadi 119 persen pada kuartal kedua tahun ini, dua kali lipat dari target Uni Eropa.
Para investor yang cemas mendorong imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun negara itu naik menjadi 4,9 persen pada hari Senin.
Fragmentasi politik
Tidak sosok dominan dalam demo saat ini. Meski pun pemerintah menuduh partai sayap kiri jauh France Unbowed (LFI) telah memicu protes tersebut. Namun partai tersebut menolak tuduhan itu.
Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional pada hari Minggu, Presiden Emmanuel Macron mengutuk kekerasan tersebut tetapi tidak menyampaikan gagasan untuk mengatasinya atau mengambil inisiatif.
Sebaliknya, ia memperingatkan para politisi yang memanfaatkan kekacauan untuk keuntungan politik, sebelum meninggalkan Prancis untuk kunjungan tiga hari ke negara-negara Teluk.
Lecornu pun menggunakan taktik saling menyalahkan. Setelah kandidat presiden sayap kiri Jean-Luc Mélenchon menuduh pemerintah "membuka pintu menuju kekacauan" dengan taktik kepolisiannya. "Anda tidak bisa menyerukan diakhirinya kekerasan sambil memberikan alasan kepada mereka yang melakukannya. Ini adalah tanggung jawab politik Anda," kata Lecornu
Marie Le Pen, yang maju dalam pemilihan presiden untuk partai sayap kanan jauh, National Rally, berupaya memasukkan isu migrasi ke dalam debat, menyalahkan kekerasan tersebut pada para pelaku kejahatan dari banlieues Prancis, daerah perkotaan miskin tempat sebagian besar populasi migran negara itu tinggal.
"Negara kita terjebak dalam cengkeraman, antara kekerasan dan ketidakberdayaan," katanya, seraya mengisyaratkan bahwa hanya tangan tegasnya yang dapat memulihkan ketertiban di tengah "kekacauan" yang ditimbulkan Macron.
Ketua Partai National Rally, Jordan Bardella, semakin memperkeruh keadaan dengan menuntut agar "milisi Antifa, kelompok ekstremis sayap kiri, dan kelompok Black Bloc" ditetapkan sebagai organisasi teroris.
Kelompok Black Bloc mengenakan pakaian hitam yang seragam atau serupa beserta masker wajah selama demonstrasi untuk menyembunyikan identitas mereka.
Para analis mengatakan bahwa fragmentasi politik inilah yang menyebabkan kelumpuhan parlemen setelah pemilihan umum sela yang diserukan oleh Macron pada tahun 2024 dan merupakan inti dari krisis Prancis yang semakin dalam
Dalam pemilu sela itu, koalisi sayap kiri (New Popular Front) meraih kursi terbanyak, diikuti oleh aliansi sentris pendukung Presiden Macron, dan partai sayap kanan (National Rally pimpinan Marine Le Pen di posisi ketiga.
Akibatnya, menghasilkan parlemen yang terfragmentasi (hung parliament) dan memicu krisis politik serta pergantian beberapa perdana menteri.