Target tersebut dinilai sangat mungkin tercapai apabila seluruh pihak bersinergi penuh dalam upaya pemadaman.
"Saya berasumsi kalau kita full dengan tenaga, maka 14 hari atau 1 bulan dari sekarang mestinya tekanan uap, tekanan kebakaran hutan, asap, di Palangka Raya mampu kita minimalisir," ujar Hanif dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Jakarta Barat, Kamis (15/10).
Guna mengakselerasi penanganan tersebut, Hanif mengatakan sejumlah upaya yang telah dilakukan akan digenjot lagi.
Sejumlah upaya tersebut di antaranya adalah pembasahan lahan gambut, pembangunan sumur bor, hingga pemanfaatan larutan surfaktan.
Hanif menjelaskan saat ini terdapat dua titik rawan yang membutuhkan intervensi mendesak di Kalimantan Tengah.
Pertama, area seluas 39 ribu hektare di Palangka Raya yang langganan terbakar dengan intensitas hotspot tinggi.
Kedua, area seluas 93 ribu hektare kawasan lindung gambut di Kabupaten Pulang Pisau.
"Dua lokasi ini akan menjadi sasaran kerja bersama dalam waktu segera. Setelah ini tim akan melakukan verifikasi lapangan untuk menentukan langkah-langkah dalam rangka penanganan seperti yang kita lakukan di Kalimantan Selatan," jelas Hanif.
Adapun Kemenko Pangan ditugasi mengawal penanganan karhutla di empat provinsi, yakni Kalimantan Selatan, Papua Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan.
Penanganan di Kalimantan Selatan telah mulai sejak Agustus dengan berkolaborasi bersama seluruh unsur yang ada seperti pemerintah daerah maupun unit usaha.
"Kita telah berhasil menjinakan paling tidak mengendalikan hampir 3 ribu hektare di area pertama yang sangat dekat dengan pusat kota di Kalimantan Selatan," beber Hanif.