Tata menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers di Gedung Palapa, Kemlu beberapa jam usai serah terima jabatan dengan Menlu sebelumnya Sugiono, Senin (12/10).
"Indonesia tidak terikat pada aliansi manapun. Kita tidak memilih blok, kita memilih prinsip, kita negara cinta damai ingin berteman dengan semua negara," kata dia.
Lebih lanjut, Tata menerangkan bahwa prinsip tersebut tak boleh disalahartikan bahwa Indonesia melemah jika kepentingan nasional diganggu.
"Kita akan selalu tegas untuk kepentingan NKRI [Negara Kesatuan Republik Indonesia]," ucap dia.
Tata juga menerangkan Indonesia selalu berusaha menjadi bagian dari solusi di tengah perbedaan.
"Bebas tapi tidak diam. Aktif tapi tidak ikut-ikutan. Dengan cara itulah Indonesia membangun reputasi sebagai bridge builder dan peacemaker," ungkapnya.
Indonesia tergabung dalam sejumlah organisasi seperti ASEAN, BRICS, G20, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), MIKTA, hingga D-8. Partisipasi ini merupakan peran aktif Indonesia di forum-forum internasional.
Posisi Indonesia bergabung dengan BRICS sempat memicu kritik. Pakar hubungan internasional menilai keanggotaan Indonesia di organisasi tersebut akan terlihat sebagai bagian dari poros China-Rusia di tengah rivalitas global saat ini.
Namun, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa berbagung ke BRICS adalah pengejawantahan politik luar negeri bebas aktif dan bukan berarti ikut kubu tertentu.