Ketika Langkah Politik Jokowi Ke Depan Ditentukan Putusan MK

Jakarta, - Pengamat Politik, Hendri Satrio (Hensa) menyatakan bahwa kepercayaan diri mantan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dalam menghadapi dinamika politik saat ini tidak terlepas dari pengalamannya mengelola kekuatan partai politik selama ini.

Dia mengulas saat pembentukan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar pada Pilpres 2024.

Saat itu, Anies yang sebelumnya dibangun bersama Nasdem, Demokrat, dan PKS akhirnya berpasangan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Demokrat kemudian keluar dari koalisi, sementara Nasdem, PKB, dan PKS melanjutkan dukungan kepada pasangan Anies-Muhaimin.

Menurut Hensa, perubahan konfigurasi tersebut menarik jika dilihat dari hubungan politik Muhaimin dan PKB dengan Jokowi. Dia bahkan menduga Cak Imin merupakan salah satu figur yang memiliki kedekatan politik kuat dengan Jokowi.

“Muhaimin Iskandar dan PKB ini menurut saya justru sekutu paling ideal dan dekat buat Jokowi. Jadi menurut saya, waktu 2024 itu bagaimana Jokowi mengelola politik sehingga Prabowo dan Gibran menang,” kata Hensa dalam perbincangan bersama Helmy Yahya di YouTube Helmy Yahya Bicara, dikutip Minggu, 4 Oktober 2026.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini kemudian menyebut Cak Imin sebagai figur yang patut diperhatikan ketika membicarakan jejaring politik Jokowi. Menurut dia, kemampuan Cak Imin berpindah dan beradaptasi di tengah perubahan konfigurasi politik menunjukkan kelihaian Ketua Umum PKB tersebut.

“Jangan-jangan memang proxy terkuatnya Jokowi ini ya Cak Imin. Cak Imin memang canggih, cair banget. Dia yang paling paham bagaimana berselancar,” ujar Hensa.

Bagi Hensa, cerita Anies-Muhaimin menjelang Pilpres 2024 itu merupakan salah satu contoh penting untuk membaca sikap Jokowi sekarang.

Dia menilai hampir seluruh kekuatan politik besar pernah memiliki hubungan kerja sama atau berada dalam lingkaran pemerintahan Jokowi sehingga mantan wali kota Solo itu memahami karakter masing-masing partai.

“Masalahnya, ada enggak kekuatan politik di Indonesia yang tidak pernah berkoalisi dengan Pak Jokowi? Enggak ada. Jadi Jokowi tahu persis cara mainnya karena semuanya pernah di lingkaran dia,” kata Hensa.

Dia menyebut pengetahuan tersebut mencakup cara bergerak sejumlah partai, mulai dari Gerindra, Golkar, PDIP, PKS, Demokrat, PKB hingga Nasdem.

Karena itu, menurut Hensa, pernyataan-pernyataan percaya diri Jokowi terkait persaingan politik tidak bisa dilepaskan dari pengalamannya berhadapan dan bekerja sama dengan kekuatan-kekuatan tersebut.

“Pak Jokowi sudah tahu caranya menang dan enggak ada yang tidak bersama dia. Siapa yang enggak bersama dia? Enggak ada. Jokowi tahu cara mainnya PKS bagaimana, Demokrat bagaimana, PKB bagaimana, Nasdem bagaimana,” ujar Hensa.

Atas dasar itu, Hensa menilai kekuatan Jokowi ke depan tidak cukup dibaca hanya dari kendaraan politik yang digunakannya. Jejaring dan pengalamannya berinteraksi dengan partai-partai politik juga menjadi variabel yang menurutnya perlu diperhitungkan.

“Masih punya jaringannya. Wajar kalau dia bilang dia enggak takut, ‘gue tahu semua kok’. Dia mengerti rencana, tahu cara mainnya partai-partai politik di Indonesia,” ujar Hensa.

Di tengah kuatnya jejaring politik Jokowi yang ia gambarkan, Hensa menilai masih ada satu hal yang patut ditunggu, yakni perkembangan perkara di Mahkamah Konstitusi terkait surat kesetaraan pendidikan Gibran Rakabuming Raka.

Persoalan tersebut sebelumnya juga disinggung Hensa ketika membahas posisi politik Jokowi dan Gibran ke depan.

“Makanya menarik nih menunggu hasil MK tentang surat kesetaraan kemampuan Gibran, ujungnya akan seperti apa karena ini juga jadi faktor langkah politik Jokowi ke depannya,” pungkas Hensa.