Bank Dunia :Fakta Kemiskinan RI, 64,2% Penduduk Masuk Kategori Miskin

-  

Dunia mencatat Indonesia perpotensi menjadi salah satu negara dengan angkat kemiskinan tertinggi di antara negara-negara yang masih berada dalam kelompok middle income courry atau negara berpendapatan menengah.

Berdasarkan standar Bank Dunia, sebanyak 64,2% penduduk indonesia masuk dalam kategori miskin apabila menggunakan ambang pengeluaran sebesar US$8,3 per orang per hari.

Kondisi tersebut menjadi sorotan karena tingginya proporsi penduduk yang berada di bawah standar tersebut dinilai mencerminkan masih besarnya persoalan kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

Pernyataan mengenai posisi Indonesia itu disampaikan dalam kanal YouTube FERRY LATUHIHIN dan dikutip pada Jumat (4/9).

"Menurut World Bank tahun depan, Indonesia ini menjadi negara termiskin di dunia di dalam kelasnya sebagai middle income class," demikian pernyataan yang disampaikan dalam tayangan tersebut.

Apabila proyeksi tersebut benar, tantangan Indonesia bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan daya beli dan pendapatan masyarakat secara merata


"Ini sangat mengerikan loh ya tentu ini ukuran World Bank yaitu ya pengeluaran ya manakala pengeluaran warga negara itu cuma 8,3 dolar per hari ya. Itu sudah digolongkan miskin. Dan ini jumlahnya sangat dahsyat 64,2% dari total penduduk kita di mata World Bank itu tergolong miskin," imbuhnya.

Ferry menyoroti perbedaan besar antara data Bank Dunia dan Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut BPS, jumlah orang miskin di Indonesia hanya sekitar 8–9%, jauh lebih rendah dibanding klaim World Bank.

Ia menambahkan, kondisi sehari-hari menunjukkan banyak tenaga kerja masih berada di sektor informal. Dari total angkatan kerja, hanya 40% bekerja di sektor formal, sementara 60% berada di sektor informal seperti ojek online (ojol), pedagang kecil, atau warung makan. Hal ini membuat ekonomi sulit menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.

Laporan World Bank
Laporan Macro Poverty Outlook dari Bank Dunia memproyeksikan bahwa 64,2% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan internasional kelas menengah atas dengan batas pengeluaran US$ 8,30 per kapita per hari.

Namun, angka ini bukan berarti statistik resmi pemerintah. Standar US$ 8,30 tidak dikonversi dengan kurs pasar biasa, melainkan menggunakan metode Purchasing Power Parity (PPP) atau paritas daya beli. Bank Dunia menetapkan standar tersebut karena Indonesia telah masuk kategori upper-middle income country.

Jika proyeksi tersebut benar, tantangan Indonesia bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan daya beli dan pendapatan masyarakat secara merata