Hal itu diungkap Xi Jinping saat melakukan kunjungan ke Mesir pada Rabu (2/9). Anadolu menyakini pernyataan itu diungkap Xi sebagai upaya China untuk memperluas pengaruh di Timur Tengah di tengah ketegangan antara AS dan Iran.
"China mendukung negara-negara di kawasan ini dalam membangun arsitektur keamanan baru untuk Timur Tengah," jelas Xi Jinping saat bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.
"Rakyat Timur Tengah harus tetap menjadi penguasa urusan mereka sendiri dan campur tangan eksternal harus ditolak. China dan Mesir bersama-sama menentang unilateralisme dan tindakan intimidasi," sambungnya.
Ini adalah kunjungan pertama Xi Jinping ke Timur Tengah dalam empat tahun terakhir. Kunjungan ini dilakukan di tengah langkah mitra-mitra AS di kawasan tersebut untuk meninjau kembali hubungan strategis mereka.
Konflik berbulan-bulan di Timur Tengah yang disebabkan karena serangan AS ke Iran, telah mengganggu perdagangan, mengguncang perekonomian, dan memunculkan pertanyaan mengenai peran jangka panjang Washington.
Mesir, yang merupakan mitra pertahanan utama AS dan menerima bantuan militer tahunan sekitar US$1,3 miliar dari Washington, secara konsisten telah meningkatkan kerja sama ekonomi dan militer dengan China dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah ketegangan di Selat Hormuz akibat perang AS vs Iran, Xi Jinping mengatakan China siap bekerja sama dengan negara-negara Timur Tengah untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.
Lebih lanjut, Xi Jinping menyerukan "solusi komprehensif untuk keamanan bersama" di kawasan Timur Tengah. Selain itu Xi memastikan isu Palestina tetap menjadi inti dari masalah Timur Tengah yang tidak boleh diabaikan.
China, disebut Xi Jinping, mendukung peran efektif PBB di kawasan tersebut dan mendesak kekuatan eksternal untuk meninggalkan standar ganda di Timur Tengah.
Mesir merupakan negara Arab dan Afrika pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan China pada 1956.