Rupiah Menguat 3 Hari Beruntun, Tembus Level Terkuat Sejak Mei

[INTRO]

Rupiah mencatat kinerja positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini. Penguatan mata uang Garuda sejalan dengan tren mayoritas mata uang Asia yang turut mendapat dorongan dari pelemahan dolar AS.

Rupiah bahkan berhasil mencatat penguatan selama tiga hari perdagangan secara beruntun. Pada perdagangan terakhir pekan ini, rupiah ditutup di level Rp17.685 per dolar AS.

Level tersebut menjadi posisi penutupan terkuat rupiah dalam hampir tiga bulan, tepatnya sejak 22 Mei 2026. Pergerakan ini menunjukkan adanya perbaikan sentimen terhadap rupiah di tengah tekanan dolar AS yang mulai mereda.

 
 
 
 Secara mingguan, rupiah mencatatkan penguatan sebesar 0,76%. Mata uang Garuda menjadi salah satu dari sembilan mata uang Asia yang berhasil menguat terhadap dolar AS sepanjang pekan ini.

Penguatan rupiah ditopang sentimen domestik setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur periode 18-19 Agustus 2026.

BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Keputusan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pengumuman tersebut sempat menurunkan imbal hasil obligasi AS jangka panjang. Namun, pelaku pasar juga khawatir upaya menahan kenaikan yield justru memindahkan tekanan ke dolar.

"Upaya Bessent menekan imbal hasil AS tidak banyak berdampak pada imbal hasil, tetapi justru melemahkan dolar," kata Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex Marc Chandler, dikutip dari Reuters.

Pelemahan dolar memberikan ruang bagi mata uang Asia untuk menguat karena tekanan terhadap aset negara berkembang ikut berkurang.

Meski demikian, pasar masih mencermati arah kebijakan The Federal Reserve. Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September berada di sekitar 40%, sementara kemungkinan kenaikan hingga Desember mencapai 72%.

Perhatian investor berikutnya akan tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pekan depan untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga AS di tengah tekanan inflasi dan gejolak pasar obligasi.