Sebut Jokowi Masih Main Raja-rajaan, PDIP Minta Prabowo Waspada

Jakarta, - Sebagaimana diketahui, polemik soal pemberian gelar adat kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat kunjungannya ke Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali memanas.

Terkait hal itu, Politisi PDI Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli, menilai fenomena tersebut memiliki makna politik yang lebih besar.

Guntur bahkan meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mencermati berbagai manuver politik Jokowi pasca tidak lagi menjabat sebagai kepala negara. Menurutnya, rangkaian safari politik dan simbol-simbol penghormatan yang diterima Jokowi tidak bisa dipandang sebagai hal biasa.

"Mengapa Jokowi masih main raja-rajaan? Dan mengapa Presiden Prabowo harus waspada?" kata Guntur.

Dalam keterangannya, Guntur menyoroti bantahan Raja Amanuban, Pina Ope-Nope, terkait kabar penobatan Jokowi sebagai Raja Timor. Menurutnya, Raja Amanuban telah menegaskan tidak pernah ada prosesi penobatan maupun pembahasan mengenai pemberian gelar tersebut.

Dia menjelaskan, kehadiran para raja adat dalam kegiatan budaya di Kupang semata-mata sebagai bentuk penghormatan kepada tamu, bukan untuk mengukuhkan gelar adat kepada Jokowi.

Berangkat dari bantahan itu, Guntur menilai muncul upaya membangun persepsi publik seolah-olah Jokowi memperoleh legitimasi simbolik melalui pemberian gelar adat.

"Fenomena ini bukan sekali dua kali. Jokowi masih doyan main raja-rajaan karena nafsu kekuasaannya tidak pernah benar-benar padam," ucapnya.

Guntur juga menilai safari politik Jokowi ke berbagai daerah, termasuk ke NTT, tidak tepat dimaknai sebagai bentuk dukungan kepada pemerintahan Prabowo.

"Safari Jokowi ke berbagai daerah termasuk ke NTT tidak bisa dibaca sebagai dukungan kepada pemerintah Prabowo. Justru sebaliknya, di tengah kepuasan publik terhadap Prabowo yang tengah menurun, manuver Jokowi lebih tepat dibaca sebagai konsolidasi basis massa untuk kelompoknya sendiri, bukan untuk menopang Prabowo," jelasnya.

Menurut Guntur, berbagai simbol penghormatan adat yang diterima Jokowi berpotensi menjadi modal politik yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

"Popularitas yang dirawat lewat simbol-simbol kerajaan dan sambutan adat yang dimanipulasi melalui media dan media sosial adalah modal politik pribadi yang disimpan untuk kepentingan jangka panjang Jokowi dan kelompoknya," katanya.

Dia mengaku telah mengingatkan soal potensi manuver politik Jokowi sejak beberapa bulan lalu. Menurutnya, pengaruh mantan presiden itu tidak akan mudah hilang dari panggung politik nasional.

"Saya sudah mengingatkan hal ini beberapa bulan yang lalu. Bayang-bayang Jokowi tidak akan pernah benar-benar pergi dari panggung kekuasaan," tegasnya.

Karena itu, Guntur meminta Presiden Prabowo agar tidak memandang seluruh langkah politik Jokowi sebagai bentuk dukungan, melainkan mencermatinya secara lebih hati-hati.

"Presiden Prabowo perlu membaca gerakan itu bukan sebagai bantuan, melainkan sebagai bayang-bayang yang terus mengintai posisi Presiden Prabowo sendiri," tambah Guntur.