Dalam pernyataan resmi pasca bencana, Takaichi mengabarkan bahwa sejumlah kebakaran dan pemadaman listrik terjadi di beberapa daerah imbas gempa.
"Kami masih menilai seberapa besar cedera dan kerusakan properti, tetapi saya telah diberi informasi bahwa sudah ada beberapa korban luka," jelas Takaichi, seperti dikutip AFP.
"Pemadaman listrik dan kebakaran terjadi di beberapa daerah, dan jalan serta jembatan rusak, serta bangunan runtuh," lanjutnya.
Gempa bumi 7,1 magnitudo melanda prefektur Kumamoto selatan pada Selasa sore pukul 16.27 waktu setempat. Peringatan tsunami setinggi satu meter sempat dikeluarkan menyusul gempa.
Siaran televisi NHK menunjukkan beberapa kebakaran, jembatan rusak, hingga jalanan retak imbas gempa di pulau Kyushu. Setidaknya 12 rumah dilaporkan roboh.
Dinas pemadam kebakaran Jepang melaporkan banyak orang terjebak di dalam pusat perbelanjaan yang rusak di Kota Kashima.
"Di Kota Kashima, lantai dua sebuah kompleks perbelanjaan runtuh sehingga banyak orang terjebak di dalamnya," demikian lapor dinas pemadam kebakaran dalam sebuah pernyataan.
Menurut perusahaan listrik Kyushu Electric Power, sekitar 45.000 rumah tangga dan fasilitas di wilayah Kumamoto tidak memiliki aliran listrik.
Otoritas Regulasi Nuklir sementara itu memastikan tidak ada anomali langsung yang tercatat di pembangkit listrik tenaga nuklir setempat.
Pasca gempa, Jepang masih mencatat sejumlah gempa susulan dengan skala mulai dari 3 hingga 4.
Jepang adalah salah satu negara paling rawan gempa di dunia, dengan gempa terjadi setidaknya setiap lima menit.
Negara yang terletak di sepanjang Cincin Api tersebut menyumbang sekitar 18 persen dari gempa bumi di dunia dengan magnitudo 6,0 atau lebih.
Jepang masih dihantui peristiwa gempa bawah laut dahsyat berkekuatan 9,0 pada 2011 yang memicu tsunami dan menewaskan atau menyebabkan sekitar 18.500 orang hilang. Bencana alam tersebut turut menghancurkan pembangkit nuklir Fukushima.