Pergerakan rupiah sejalan dengan mata uang Asia yang bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,14 persen, ringgit Malaysia naik 0,09 persen, dolar Singapura terapresiasi 0,09 persen, serta yen Jepang menguat 0,17 persen.
Sementara itu, peso Filipina melemah 0,19 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,37 persen, sedangkan dolar Hong Kong bergerak stabil.
Di kelompok mata uang negara maju, pergerakannya juga beragam. Euro menguat 0,17 persen, poundsterling Inggris naik 0,21 persen, dolar Australia terapresiasi 0,12 persen, dan franc Swiss menguat 0,30 persen.
Sebaliknya, dolar Kanada melemah 0,08 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen domestik dan global.
"Rupiah ditutup melemah dipengaruhi sentimen domestik maupun eksternal. Dari dalam negeri, penurunan Indeks Kepercayaan Konsumen dan data penjualan ritel Indonesia menekan pergerakan rupiah," ujar Lukman melansir CNNIndonesia.com.
"Sementara dari eksternal, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia turut memicu tekanan terhadap rupiah," pungkasnya.