Sebelum Dokter Icha Bunuh Diri, Ayahnya Ungkap soal Dugaan Intimidasi

Jakarta, - Sebagaimana diketahui, Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha yang meninggal dunia dengan cara bunuh diri diduga mengalami depresi berat setelah mendapat intimidasi dari tiga anggota DPRD Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Tiga anggota DPRD TTU yang diduga melakukan intimidasi terhadap dr. Icha tersebut adalah Therezius Lazakar (Golkar), Robert Tubani (PKB), Veronika Lake (PDIP).

Dokter Icha ditemukan tewas gantung diri di kamar rumahnya di kawasan RSS Baumata, Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang pada Jumat (26/6) sore. Keluarga pun mengungkap sejumlah intimidasi yang dialami oleh dokter berusia 27 tahun itu.

Menurut ayahnya Gabriel Pakaenoni, berdasarkan keterangan korban sebelum meninggal dunia, anaknya diduga mengalami intimidasi yang sangat luar biasa saat menangani seorang pasien di ruang unit gawat darurat (UGD) Rumah Sakit Leona Kefamenanu pada 13 Juni 2026 lalu.

"Berdasarkan kronologi yang dibuat oleh dokter Icha sendiri intimidasinya banyak, tekanan yang paling dan sangat luar biasa," kata Gabriel di rumah duka, Senin (29/6).

Sebelum meninggal, kata Gabriel, anaknya mendapat intimidasi dengan cara ditunjuk-tunjuk dan dihardik dengan nada ancaman.

Disebutkan Gabriel bahwa tiga terduga pelaku menegaskan identitas mereka sebagai anggota DPRD dari Komisi III yang memiliki kuasa untuk setiap praktek dokter di Kabupaten Timor Tengah Utara.

"Contoh seperti ditunjuk-tunjuk, sudah itu menyatakan diri bahwa dia adalah anggota DPRD Komisi III yang membidangi dinas kesehatan bahkan bisa membekukan setiap praktek dilakukan oleh para dokter," ujarnya mengulangi penyampaian korban.

Menurut Gabriel, anaknya stres dan depresi akibat bentakan dari para terduga pelaku. Namun, meski tertekan Gabriel menyebut Dokter Icha tetap melaksanakan tugasnya menangani pasien gigitan ular yang rupanya keponakan dari salah satu anggota DPRD dari Partai Golkar Therezius Lazakar.

"Yang lain membentak dengan nada yang tidak kita harapkan, padahal dia adalah seorang yang tenaga medis." ucapnya.

Menurut Gabriel, dalam kasus ini ia tidak sekadar membela anaknya, tapi juga profesi tenaga medis atau dokter.

Dia pun menyampaikan dua tuntutan atas peristiwa tragis yang dialami oleh Dokter Icha. Pertama, katanya, penegakan hukum secara transparan tanpa intervensi dari pihak manapun sehingga keluarga bisa mendapat keadilan sesuai data dan fakta.

Kemudian, Gabriel juga meminta agar pemerintah dan pihak rumah sakit bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua tenaga kesehatan, khususnya para dokter selama melaksanakan tugas di semua fasilitas kesehatan.

Menurut Gabriel, sebelum kasus ini anaknya tidak pernah mengalami intimidasi atau ancaman dalam bentuk apapun, baik saat bertugas dokter di beberapa puskesmas atau saat praktik di Rumah Sakit Leona Kefamenanu.

Disampaikannya, saat melakukan penanganan terhadap pasien gigitan ular tersebut dr. Icha telah melakukannya sesuai standar operasional prosedur (SOP). Bahkan dia juga sempat melakukan komunikasi dengan dokter ahli bisa ular yakni dr. Tri Maharani untuk penanganan pasien gigitan ular tersebut.

Sementara itu, Nur Azizah, ibu kandung dr. Icha mengaku anaknya sempat cerita melalui telepon perihal intimidasi yang dialami. Dalam perbincangan itu, Dokter Icha disebut merasa sangat terpukul.

"Pada malam kejadian dia langsung menelpon ke kami sebagai orang tua dan itu diceritakan berulangkali," kata Nur di rumah duka.

Dokter Icha ditemukan meninggal dunia di kamar rumahnya akibat bunuh diri pada Jumat (26/6) lalu. Almarhumah diduga nekat bunuh diri setelah mengalami depresi akibat diintimidasi tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Saat itu Dokter Icha sedang menangani seorang pasien anak yang terkena gigitan ular di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Leona Kefamenanu, 13 Juni 2026 lalu. Pasien itu ternyata keponakan dari salah satu anggota DPRD TTU yang diduga mengintimidasi Dokter Icha.

Salah satu anggota DPRD TTU yang terseret kasus ini, Veronika Lake, mengaku tidak terlibat dalam dugaan intimidasi terhadap Dokter Icha.

"Saya, Veronika Lake, dengan penuh kerendahan hati menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Dokter Icha. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta penghiburan," ujar Veronika, Senin (29/6).

Veronika berkata kehadirannya di RS saat itu bukan kunjungan terjadwal. Ia ke RS karena kebetulan menumpang kendaraan usai menghadiri arisan istri-istri anggota DPRD TTU di Kecamatan Insana.

Menurut Veronika, di tengah perjalanan pulang, anggota DPRD TTU Therensius Lazakar mengajak singgah di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Leona untuk menjenguk keponakannya yang dirawat karena gigitan ular berbisa.

Perdebatan antara dua rekannya dengan seorang dokter, disebut Veronika sudah berlangsung saat ia masih di depan ruang IGD.

"Saat masuk, perdebatan antara dua rekan dan seorang dokter disebut sudah berlangsung. Saya kemudian ikut menanyakan bagaimana tindak lanjut penanganan pasien, standar pelayanan, dan kualitas pelayanan," ujar Veronika.

Veronika mengakui dalam perdebatan itu sempat mengucapkan `panggil wartawan saja`. Namun Veronika membantah ucapan itu ditujukan kepada Dokter Icha.

Klaim Veronika, ucapan itu adalah usul yang ia sampaikan kepada salah satu rekannya saat itu. Tujuannya agar ada perbaikan kualitas layanan RS.

"Terkait perkataan panggil wartawan saja. Itu saya maksudkan sebagai usulan kepada salah satu rekan DPRD agar ada liputan eksternal dan investigatif terkait transparansi pelayanan kesehatan, evaluasi, dan perbaikan kualitas pelayanan. Jadi, tidak ditujukan kepada personal atau pribadi," tutur Veronika.