- Terjadinya konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz, telah meningkatkan ketidakpastian global. Di saat yang sama, sinyal kenaikan suku bunga acuan The Fed, perubahan penilaian MSCI terhadap pasar keuangan, hingga prospek negatif dari lembaga pemeringkat investasi turut memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Disampaikan INDEF secara lengkap dalam dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026 bertajuk “Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim” beberapa hari lalu kamis 24 Juni 2026.
Tekanan tersebut dinilai mulai memengaruhi ruang fiskal pemerintah, daya beli masyarakat, serta daya saing sektor riil yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 tercatat mencapai 5,61 persen, INDEF menilai capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang kuat. Pertumbuhan masih banyak ditopang konsumsi selama momentum Lebaran, efek basis rendah, serta peningkatan belanja pemerintah pada awal tahun.
Sejalan dengan itu , sejumlah indikator mulai menunjukkan pelemahan konsumsi masyarakat. Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen dan melambatnya Indeks Penjualan Riil menjadi sinyal bahwa daya beli rumah tangga mulai mengalami tekanan.
Kondisi tersebut turut diperberat oleh tingginya volatilitas harga pangan global serta kesenjangan harga antarwilayah yang disebut mencapai hampir empat kali lipat. Situasi ini dinilai semakin menggerus kemampuan belanja masyarakat.
Pada saat bersamaan, ruang fiskal pemerintah juga semakin terbatas. Hingga lima bulan pertama 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp203,7 triliun atau sekitar 45,6 persen dari total pagu APBN. INDEF juga menilai masih terdapat tantangan dalam penyaluran subsidi karena sebagian manfaatnya dinikmati kelompok masyarakat yang sebenarnya tidak menjadi sasaran utama.
Sektor industri pun menghadapi tekanan yang tidak kalah besar. Ketergantungan terhadap bahan baku impor, yang mencapai sekitar seperempat dari total kebutuhan produksi, membuat berbagai industri rentan terhadap kenaikan harga energi maupun gangguan rantai pasok global.
Menurut INDEF, industri alat angkutan, tekstil, elektronik, hingga industri berbasis energi fosil menjadi sektor yang paling terdampak akibat meningkatnya biaya produksi.
Di sektor perdagangan luar negeri, surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat hanya sebesar US$0,09 miliar atau menjadi yang terendah sejak Mei 2020. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, meningkatnya biaya produksi dikhawatirkan akan mempersempit margin usaha dan berpotensi memengaruhi kondisi ketenagakerjaan.
Meski demikian, INDEF menilai Indonesia masih memiliki peluang memperkuat ketahanan ekonomi apabila mampu memanfaatkan momentum krisis sebagai pintu masuk mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
“Kebijakan ekonomi perlu bergerak dari pendekatan responsif menuju pendekatan transformasional, dari sekadar meredam gejolak menuju membangun ketahanan ekonomi yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan,” tulis INDEF.
Dibagian akhir seminar , lembaga tersebut merekomendasikan tujuh langkah utama, yakni memperkuat stabilitas makroekonomi, menjaga daya beli masyarakat dan kelas menengah, mereformasi subsidi energi agar lebih tepat sasaran, mempercepat transisi energi, memperkuat ketahanan pangan, mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri, serta memperluas diversifikasi ekspor.