[INTRO]
Semakin dekatnya penandatanganan nota kesepahaman mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sepertinya membuat Tel Aviv terguncang. Seorang pejabat senior Israel, seperti dilaporkan Yedioth Ahronoth dilansir Al Mayadeen, Ahad (14/6/2026), menggambarkan kesepakatan antara AS dan Iran merusak kepentingan Israel dan bukti bahwa pengaruh Israel terhadap Washington dalam pengambilan keputusan telah sirna.
Menurut pejabat itu, kesepakatan antara AS dan Israel "bukan suatu kesepakatan yang baik" dan mengingatkan implikasi strategisnya terhadap Israel."Ini bukan sebuah kesepakatan yang baik. Tidak ada yang puas dengan itu. Semua paham bahwa kesepakatan ini tidak baik untuk kami dan mengganggu kepentingan Israel," ujar pejabat senior Israel itu."Yang mengkhawatirkan adalah Israel tidak bisa mempengaruhi, dan suaranya tidak didengar," tambahnya.Para pejabat senior Israel juga dikabarkan frustrasi terhadap pendekatan Presiden AS Donald Trump dalam proses negosiasi dengan Iran, sambil mengeklaim bahwa Israel telah dipinggirkan dari perkembangan utama negosiasi. "Trump menipu kami, dan kami menelan konsekuensinya," ujat pejabat itu."Kami tidak lagi menjadi bagian dari proses dan tidak secara efektif mampu mempengaruhi mereka."Pejabat senior Israel itu mengungkapkan bahwa mereka `syok` atas laporan yang menyebut AS dan Iran segera menandatangani nota kesepahaman mengakhiri perang. Dia menilai, Iran akan berada dalam posisi lebih kuat usai kesepakatan itu diteken."Mereka menyiram Iran dengan uang, dan mereka mendapatkan apa yang mereka minta. Mereka akan membangun kekuatan rudal, dan akan berinvestasi dalam jumlah besar di bidang intersep rudal."Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran akan ditandatangani dalam waktu dekat. Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Sebaz Sharif juga telah menginformasikan hal yang sama."Kesepakatan tersebut dijadwalkan untuk ditandatangani besok (hari ini WIB)," kata Trump melalui Truth Social, Sabtu (14/6/2026).Adapun terkait Selat Hormuz, jalur laut tersebut akan segera dibuka begitu kesepakatan damai diteken, ujarnya.“Faktanya, mereka (Iran) tidak lagi menginginkan senjata nuklir, dan mereka juga tidak akan memilikinya, baik melalui pembelian, pengembangan, maupun cara perolehan lainnya,” ujar Trump.Ia menambahkan bahwa hubungan antara kedua negara kini “jauh berbeda dan lebih baik” dibandingkan pada masa pemerintahan Amerika Serikat sebelumnya.Trump juga mengatakan bahwa Amerika Serikat “akan masuk dan mengambil debu nuklir” pada waktu yang dianggap tepat dan ketika situasi telah benar-benar tenang. Menurut Trump, kesepakatan tersebut juga tidak mencakup transfer dana Amerika Serikat kepada Iran.“Berbeda dengan pembayaran ratusan miliar dolar yang diberikan kepada mereka pada masa (mantan Presiden AS Barack) Obama, termasuk 1,7 miliar dolar dalam bentuk uang tunai, tidak akan ada uang yang berpindah tangan,” kata Trump.Sebelumnya pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Pakistan juga menyatakan bahwa upacara penandatanganan kesepakatan dijadwalkan berlangsung pada Minggu.“Mereka (Menteri Luar Negeri Pakistan dan Arab Saudi) menyambut baik perundingan AS-Iran yang telah memasuki tahap akhir, dengan upacara penandatanganan elektronik dijadwalkan berlangsung besok,” tulis kementerian tersebut melalui platform X.Donald Trump disebut telah menyetujui pencairan aset Iran senilai 24 miliar dolar AS (sekitar Rp428,64 triliun) yang selama ini dibekukan, meski belum mengonfirmasinya secara terbuka. Pernyataan itu disampaikan penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Mohsen Rezaei, dalam sebuah upacara peringatan di Kota Dezful, Iran barat daya, sebagaimana dilaporkan kantor berita Fars News Agency pada Jumat (12/6/2026).Menurut Rezaei, konflik yang baru-baru ini dialami Iran telah meningkatkan posisi negara itu di tingkat global dan memperkuat kemampuan penangkalnya. Ia mengeklaim kemampuan tersebut telah berkembang hingga membuat Trump, yang ia sebut sebagai “penjudi”, kini khawatir untuk bernegosiasi dengan Teheran.Rezaei juga menuduh kebijakan Amerika Serikat semakin dipengaruhi oleh Israel. Menurut dia, lobi yang dilakukan dalam lingkaran pengambilan keputusan AS telah membuat negara itu pada praktiknya menjadi “koloni” dari rezim Zionis.Pernyataan Rezaei muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa nota kesepahaman yang diusulkan dengan Amerika Serikat akan mengakhiri konflik di seluruh front, termasuk di Lebanon, serta membuka jalan bagi perundingan mengenai pencabutan sanksi.Sementara itu, seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan pada Jumat bahwa Washington berharap dapat menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran dalam beberapa hari ke depan. Menurut pejabat tersebut, kesepakatan yang tengah dirundingkan juga diharapkan mengarah pada pembongkaran program nuklir Iran.