Demikian pandangan yang disampaikan oleh M Rizal Fadillah, pemerhati politik dan kebangsaan, dalam tulisannya yang diterima redaksi.
Dia termasuk dalam kelompok "tiga O" atau "303" yang diadukan oleh tiga warga masyarakat atas kasus yang berkaitan dengan Pasar Pramuka, yaitu Joko Widodo, Pratikno, dan Eko Sulistyo.
Sementara itu, Rustam, Rizal, dan Heru bertindak sebagai pelapor dari kalangan masyarakat dalam perkara ini.
Langkah melaporkan ke Bareskrim ini membuka fase baru dalam upaya menguak keabsahan ijazah Joko Widodo yang oleh sebagian kalangan diyakini tidak sah.
Kepalsuan dan rekayasa demi menduduki kursi walikota, gubernur, hingga presiden menjadi sorotan utama dalam laporan tersebut.
Pratikno telah menjadi loyalis setia Jokowi sejak lama, tepatnya saat ia menjabat sebagai Dekan FISIP UGM dan menjadi juru kampanye untuk pilkada Solo tahun 2005.
Kesuksesan itu berlanjut ketika Jokowi naik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2014 dan kemudian Presiden RI.
Pria yang dijuluki tangan emas dan mantan Rektor UGM ini akhirnya menuai "emas" pula dengan menjabat Menteri Sekretaris Negara selama dua periode kepemimpinan Jokowi.
Selanjutnya, ia dititipkan menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di kabinet Presiden Prabowo Subianto.
Dalam kesaksian tidak langsung (testimonium de auditu) dari Rustam Efendi, Pratikno disebut sebagai otak di balik pembuatan ijazah UGM palsu untuk Jokowi, dengan Eko Sulistyo yang saat itu menjabat Ketua KPUD Solo turut berperan.
Buah dari kesetiaan para loyalis Jokowi ini kembali berwujud emas, dimana Eko kemudian diangkat menjadi Komisaris PLN dan Deputi IV Kantor Staf Presiden pada era Joko Widodo.
Dokumen bermasalah milik Jokowi diduga kuat merupakan hasil kolaborasi antara Pratikno dan Eko Sulistyo.
Pratikno yang menjabat Mensesneg tercatat memiliki sejumlah prestasi seperti menjembatani kepentingan presiden, lembaga negara, dan parpol, menggelar transformasi digital birokrasi, serta mendukung kesekretariatan dan logistik KTT G20 tahun 2022 dan KTT ASEAN 2023.
Jokowi sendiri disebut berbahagia atas kinerja Pratikno.
Secara khusus, pelayanan Pratikno yang paling krusial bagi Jokowi adalah lobi efektif agar Gibran bisa menduduki kursi wakil presiden.
Rekayasa yang dilakukan terhadap Mahkamah Konstitusi dan KPU berjalan mulus meskipun pada faktanya Gibran tidak memiliki ijazah.
Pratikno sukses mengakali urusan ijazah, baik untuk sang ayah maupun anaknya.
Jokowi melalui jalan Pramuka, sementara Gibran berputar ke Australia, keduanya dinilai sama-sama melakukan kecurangan.
Pratikno juga disebut memberi ruang korupsi bagi Jokowi di akhir masa jabatannya.
Tanah dan rumah pensiun seluas 12.000 meter persegi di Colomadu, Karanganyar, merupakan persembahan dari Mensesneg Pratikno yang dibantu Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk "Raja Jawa palsu" itu.
Sebagai imbalannya, Pratikno tetap menduduki kursi menteri pada rezim Prabowo.
Kini, tangan emas tersebut diadukan oleh rakyat atas tudingan pembuatan ijazah palsu Jokowi di Pasar Pramuka.
Ini menjadi pertanda bahwa nasib Pratikno akan berakhir dengan buruk.
Mulai terasa menyengat bahwa ia termasuk menteri yang berbau busuk.
Rustam Efendi sudah teriak-teriak agar Prabowo segera memecat Pratikno.
Keras suaranya "Pratiknoooo…hooi Pratiknoooo !".*