Jakarta, - Dalam beberapa waktu terakhir, publik jagat maya tengah dihebohkan oleh tayangan diskusi kritis yang menyoroti adanya sejumlah ketidaksesuaian kronologis pada lini masa perjalanan hidup keluarga inti mantan Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi).
Pembahasan mendalam yang membedah runutan dokumen masa lalu tersebut diulas secara lugas melalui program bincang-bincang Sentana Podcast yang dipandu oleh Michael Sinaga selaku pembawa acara.
Acara tersebut menghadirkan dua orang panelis di studio yakni pengamat data Luke Susilo bersama seorang pakar sekaligus aktivis kesehatan masyarakat Dokter Zulkifli S Ekomei.
Pada sesi pembuka sang pembawa acara Michael Sinaga langsung memantik diskusi hangat dengan mempertanyakan sinkronisasi data penting milik figur publik tersebut dengan menyatakan “Hari ini dia membawa data tentang Gibran Kenapa Jokowi pernah bekerja di Aceh di tengah hutan rimba kapan Jokowi menikah kapan Gibran lahir kok semuanya ini terjadi di waktu yang sama kerja di hutan sambil menikah sambil Gibran lahir”.
Dalam ulasannya Luke Susilo membeberkan perhitungan kronologi yang diperoleh langsung dari kompilasi publikasi resmi serta dokumen digital milik lingkar dalam istana terdahulu.
Dirinya mengaitkan sebuah unggahan dari mantan juru bicara kepresidenan Fadjroel Rachman mengenai hari pernikahan yang diklaim terjadi pada tanggal dua puluh empat Desember seribu sembilan ratus delapan puluh enam.
Garis waktu tersebut kemudian dikomparasikan dengan tanggal kelahiran resmi sang putra sulung pada satu Oktober seribu sembilan ratus delapan puluh tujuh serta klaim masa kerja di pedalaman Sumatra selama dua setengah tahun.
Berdasarkan perhitungan matematis Luke Susilo menemukan adanya benturan kronologi yang tumpang tindih sehingga memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat mengenai kebenaran sejarah keluarga pejabat tersebut.
Sementara itu Dokter Zulkifli S Ekomei turut menyampaikan pandangan kritisnya di akhir sesi seraya merespons kebingungan publik atas tumpukan data yang dinilai penuh kepalsuan formal dengan menyimpulkan “kayanya semua pembohong Pak”.