[INTRO]
Di saat situasi ekonomi global tidak menentu pasca perang Iran-AS dan Israel, performa aset kripto kembali mencuat transaksinya. Bitcoin tercatat mampu mengungguli emas hingga sekitar 20% sejak akhir Februari 2026 saat ketegangan geopolitik mulai meningkat.
Adanya perbedaan kinerja ini dipengaruhi oleh faktor struktural, terutama penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Tekanan pada emas terjadi seiring penguatan dolar dan kenaikan yield. Sementara itu, Bitcoin menunjukkan ketahanan karena karakteristiknya yang memiliki suplai terbatas.
Selain itu, peningkatan minat investor institusional turut memperkuat kinerja Bitcoin. Salah satu perusahaan publik, MicroStrategy, dilaporkan terus menambah kepemilikan aset kripto tersebut secara agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Dari sisi fundamental, data on-chain juga menunjukkan lebih dari 60% pasokan Bitcoin saat ini dipegang oleh investor jangka panjang. Kondisi ini menciptakan tekanan pasokan (supply squeeze) yang berpotensi menopang harga dalam jangka panjang.
Seorang analis market mengingatkan bahwa reli Bitcoin saat ini masih dibayangi volatilitas tinggi, terutama di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter bank sentral AS.
"Volatilitas jangka pendek masih tinggi, namun secara jangka panjang kombinasi akumulasi institusional dan keterbatasan suplai menjadi faktor penopang," tambahnya.