[INTRO]
Menurut hasil survei LPEM FEB UI Semester I 2026 mengungkap mayoritas pakar menilai ekonomi Indonesia memburuk dan terancam risiko stagflasi. Mayoritas ahli ekonomi menilai kondisi perekonomian Indonesia kian memburuk pada kuartal awal 2026. Kesimpulan ini tertuang dalam laporan Survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Semester I 2026.
Berdasarkan hasil survei itu, sebanyak 48 persen, atau 41 dari 85 responden, menyatakan kondisi ekonomi memburuk. Sementara itu, 38 persen ahli menilai ekonomi jalan di tempat atau stagnan, dan hanya 14 persen responden yang melihat adanya perbaikan.
Tim peneliti LPEM UI secara tegas mencatat pandangan pakar terkait situasi ini dalam laporan mereka. “Rata-rata respons sebesar -0,39 mencerminkan kecenderungan para ahli yang menilai perekonomian sedang memburuk atau stagnan, dengan skor keyakinan yang tinggi sebesar 7,37 dari 10,” tulis LPEM FEB UI dalam laporannya.
Adanya fakta tren negatif ini konsisten berlanjut selama tiga survei berturut-turut. Dalam rentang 18 bulan terakhir, para ahli melihat kondisi perekonomian Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang berarti.
Ancaman Inflasi
Akibat tekanan inflasi menjadi salah satu sorotan utama para ahli ekonomi. Sebanyak 67 persen responden meyakini tekanan inflasi meningkat tajam dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Kondisi ini berpotensi menggerus daya beli masyarakat secara langsung karena harga barang dan jasa merangkak naik.
Laporan riset tersebut menegaskan temuan ini dengan menyatakan, “Para ahli semakin meyakini bahwa tekanan inflasi terus meningkat belakangan ini, dengan hasil statistik yang signifikan mencerminkan keyakinan yang kuat di antara mereka.”
Pasar Tenaga Kerja Sulit dan Bisnis Lesu
Selain inflasi, pasar tenaga kerja domestik juga masih menunjukkan kelesuan. Sekitar 56 persen responden melihat kondisi pasar kerja semakin ketat. Pelemahan ini berisiko meningkatkan angka pengangguran serta memperlambat pertumbuhan upah pekerja, yang pada akhirnya akan menekan pendapatan rumah tangga masyarakat.
Pakar ekonomi juga memberikan peringatan serius terkait kombinasi antara lesunya pasar kerja dan tingginya harga barang. “Dengan memburuknya kondisi ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi, stagflasi bisa menjadi ancaman nyata bagi perekonomian,” jelas laporan tersebut.
Di sektor riil, lingkungan bisnis juga tidak luput dari tekanan. Sebanyak 61 persen responden gabungan (45 persen menilai lebih buruk, 16 persen menilai jauh lebih buruk) sepakat bahwa iklim bisnis saat ini mengalami kemunduran. Temuan ini membuktikan bahwa sentimen positif pengusaha pada periode sebelumnya tidak mampu bertahan lama.