Jakarta, - Pemerintah Republik Indonesia (RI) secara resmi mengucapkan duka cita atas meninggalnya Wakil Presiden ke-6 RI Jenderal TNI Purn. Try Sutrisno pada hari ini, Senin 2 Februari 2026.
Mensesneg RI, Prasetyo Hadi mengatakan, Try Sutrisno merupakan putra terbaik bangsa.
"Tentunya kita merasakan duka cita yang sangat mendalam, beliau adalah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang telah mengabdikan diri, mendharmakan seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara," katanya melalui pesan singkat.
Dia pun mengajak seluruh rakyat Indonesia, khususnya anak muda untuk meneladani sikap mendiang yang mengabdi penuh untuk bangsa.
Pras pun mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan.
Selain itu, dia juga telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memberikan atensi yang terbaik atas meninggalnya Try Sutrisno ini.
"Kami selaku pemerintah, mewakili pemerintah sejak pagi berkoordinasi dengan pihak RSPAD, Garnisun, Kemensetneg kami minta untuk memberikan atensi yang terbaik yang bisa kita berikan kepada almarhum bapak Try Sutrisno," ucap dia.
Try Sutrisno menghembuskan nafas terakhirnya di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta pada Senin (2/3) Pukul 06.58 WIB pagi ini.
Kabar itu dikonfirmasi oleh eks Kepala RSPAD Gatot Soebroto,Albertus Budi Sulistya.
Try Sutrisno lahir pada 15 November 1935. Ia merupakan pensiunan jenderal yang pernah memegang tongkat komando tertinggi sebagai Panglima ABRI (saat ini TNI).
Pada periode 1993-1998, mendiang dipercaya mendampingi Presiden ke-2 RI Soeharto sebagai mandataris MPR menjadi Wakil Presiden RI.
Kisah Hidup Try Sutrisno
Try mengenyam bangku sekolah pertama di Taman Siswa saat masih 10 tahun, tepatnya pada tahun 1945, saat ia duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar.
Karier militernya sudah dimulai ketika Try menjadi penyelidik dalam organisasi intelijen saat usianya baru menginjak 13 tahun.
Tahun 1956 menjadi titik awal resmi karier militernya ketika Try bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Pengalaman tempur pertamanya baru ia rasakan setahun kemudian, tepatnya pada 1957, saat diterjunkan ke medan perang melawan Pemberontakan PRRI.
Kemudian pada tahun 1961, Try menikah dengan Tuti Sutiawati dan dikaruniai 7 orang anak yang terdiri dari 4 orang putra dan 3 orang putri.
Perkenalan Try dengan Suharto terjadi pada masa Operasi Pembebasan Irian Barat tahun 1962. Saat itu, Mayor Jenderal Soeharto ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Panglima.
Karier Try mulai menanjak pesat setelah ia terpilih menjadi Ajudan Presiden Suharto pada tahun 1974.
Pada tahun 1978, Try dipercaya menjabat sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer XVI/Udayana. Hanya setahun berselang, ia kembali mendapat promosi sebagai Panglima Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya.
Lonjakan karier militer Try berlanjut dengan menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) pada 1985. Kemudian pada Juni 1986, Try diangkat menjadi Kasad menggantikan Jenderal TNI Rudhini.
Try hanya menjabat Kasad selama sekitar satu setengah tahun. Pasalnya, pada awal tahun 1988, ia kembali mendapat promosi, kali ini menjadi Panglima ABRI (Pangab) menggantikan Jenderal TNI L.B. Moerdani. Try menjabat posisi Panglima hingga 1993.
Pada tahun 1993, Try Sutrisno dipilih sebagai Wakil Presiden RI melalui Sidang Umum MPR masa bakti 1992 - 1997 mendampingi Soeharto.
Kemudian pada tahun 1998 masa jabatan Try Sutrisno sebagai Wapres berakhir, ia lalu digantikan oleh BJ Habibie pada Sidang Umum MPR 1998.