Bulog Serap 3 Juta Ton Beras di 2025

[INTRO]

Perum Bulog mencatat penyerapan beras nasional mencapai sekitar 3 juta ton sepanjang 2025, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Capaian ini dinilai menjadi tonggak penting penguatan cadangan pangan nasional sekaligus penopang agenda swasembada pangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan lintas sektor, khususnya peran TNI melalui jajaran Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang aktif mendampingi petani di lapangan. “Dengan kerja sama berbagai pihak, termasuk Babinsa TNI AD dan jajaran pertanian, Bulog mampu menyerap sekitar 3 juta ton beras sepanjang 2025,” ujar Rizal dalam Talkshow Panen Fest 2026 di Jakarta, Sabtu (7/2), sebagaimana dilansir Antaranews.

Penyerapan beras tersebut merupakan bagian dari penugasan strategis pemerintah di awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang menargetkan Bulog menyerap setara 3 juta ton beras untuk memperkuat cadangan pangan nasional dan menekan ketergantungan pada impor. Rizal menilai capaian ini turut menopang deklarasi swasembada pangan yang disampaikan Presiden Prabowo di Karawang, Jawa Barat, pada Januari lalu. Menurutnya, kemampuan negara memenuhi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri merupakan indikator utama kedaulatan dan kemandirian nasional. “Suatu negara dinilai berdaulat apabila mampu mencukupi kebutuhan pangannya sendiri tanpa bergantung pada impor,” ujarnya.

Secara historis, capaian penyerapan 3 juta ton pada 2025 melampaui rata-rata penyerapan Bulog pada tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran 1,5 hingga 2 juta ton. Selain itu, stok beras Bulog juga mencetak rekor baru dengan puncak cadangan mencapai sekitar 4,2 juta ton setara beras pada Agustus 2025, tertinggi sejak Bulog berdiri pada akhir 1960-an.

Rizal menjelaskan Bulog menjalankan tiga fungsi utama dalam sistem pangan nasional, yakni menjaga ketersediaan pangan, memastikan keterjangkauan harga, serta melakukan stabilisasi harga sesuai kebijakan pemerintah. Ketersediaan pangan menjadi fondasi untuk menjamin pasokan nasional, sementara keterjangkauan diarahkan agar masyarakat di seluruh wilayah Indonesia dapat mengakses pangan secara merata. Adapun stabilisasi harga dilakukan melalui penetapan harga acuan pemerintah guna melindungi konsumen sekaligus produsen.

Untuk tahun 2026, pemerintah kembali menugaskan Bulog menyerap gabah petani setara 4 juta ton beras. Penugasan ini ditujukan untuk memperkuat cadangan pangan, menjaga stabilitas harga, dan meningkatkan kesejahteraan petani. “Kami yakin dan optimistis target penyerapan 4 juta ton beras pada 2026 dapat dicapai,” tegas Rizal.