Jakarta, - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) secara resmi mencatat lebih dari separuh badan usaha milik negara (BUMN) merugi setiap tahunnya.
"(Jumlah BUMN yang setor dividen) less than 1 percent, yang rugi minimum 52 persen. Jadi tugas kami itu kalau memang ada perusahaan yang rugi, bisa enggak kita perbaiki dengan mengkonsolidasi," ujar Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir dalam acara Antara Business Forum di Hotel Westin, Jakarta Selatan, Rabu (19/11).
Tidak hanya itu, jumlah BUMN yang menyetorkan dividen juga tak sampai 1 persen dari keseluruhan perusahaan pelat merah.
Namun, perusahaan-perusahaan itu menyumbang 95 persen dari total dividen yang disetor entitas milik negara itu.
"Dari 1.060 perusahaan yang ada di bawah Danantara, yang memberikan dividen itu hanya 95 persen datang dari delapan (perusahaan)," terang Pandu.
Melihat hal itu, sambung Pandu, Danantara akan berbenah. Salah satunya dengan menggabungkan BUMN-BUMN yang mempunyai tugas serupa.
Hal serupa juga pernah diungkap Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria.
Agustus lalu, Dony menyebut Danantara membawahi 1.046 BUMN. Namun, 97 persen dividen hanya datang dari delapan perusahaan di antaranya.
"(Sekitar) 52 perusahaan BUMN itu rugi, dan total kerugian itu kurang lebih direct loss dan indirect loss akibat daripada inefisiensi dalam pengelolaan itu kurang lebih sekitar Rp 50 triliun setiap tahun," ujar Dony dalam special talkshow bertajuk Membaca Arah Ekonomi dan Kebijakan Fiskal 2026 bersama Chairman CT Corp Chairul Tanjung, Jumat (15/8).