Untuk Rekrutmen Anggota, Polri Siapkan Mesin Pendeteksi LGBT

Jakarta, - Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia (SDM), Irjen Anwar, menyoroti berbagai persoalan internal yang dihadapi oleh institusi kepolisian.

Irjen Anwar mengakui bahwa sejumlah kasus yang mencoreng citra Polri masih terjadi, termasuk isu intoleransi, penyebaran paham radikal, dan perilaku menyimpang secara moral maupun seksual alias LGBT.

Dalam keterangannya, Irjen Anwar menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya memperkuat sistem rekrutmen agar dapat menghasilkan anggota kepolisian yang berintegritas dan memiliki kepribadian kuat.

Namun, Irjen Anwar juga mengakui bahwa hingga kini belum ditemukan formula ideal untuk mendeteksi secara dini berbagai potensi penyimpangan perilaku calon anggota Polri, termasuk yang berkaitan dengan orientasi seksual.

“Sampai saat ini kami masih mencari pendekatan yang tepat dalam proses seleksi anggota Polri, terutama untuk menilai kecenderungan perilaku yang bisa berpotensi menjadi masalah di kemudian hari,” beber Irjen Anwar.

Lebih lanjut, Irjen Anwar menegaskan bahwa Polri telah melakukan berbagai langkah penegakan disiplin terhadap anggota yang terbukti melanggar kode etik atau norma kepolisian.

“Memang ada beberapa kasus yang sudah ditindak, mulai dari pemecatan, demosi, hingga pembinaan ulang. Semua dilakukan sesuai prosedur dan data yang kami miliki,” tambahnya.

Irjen Anwar menegaskan bahwa kepolisian berkomitmen menjaga profesionalitas dan integritas di tubuh Polri.

Ia berharap ke depan proses rekrutmen dapat semakin selektif dan adaptif terhadap tantangan sosial yang berkembang, sehingga setiap anggota Polri benar-benar mencerminkan nilai-nilai moral, disiplin, dan pengabdian kepada masyarakat.