- Malang melintang di dunia pendidikan di mancanegara, tak membuat Stella Christi lupa pulang. Ilmu yang diderasnya dari sejumlah kampur ternama, dia bawa pulang untuk membangun pendidikan di Indonesia. Dia menilai ekosistem sain dan teknologi harus dibangun berdasarkan realitas lokal, namun dengan standar global.
Prof. Stella Christie, A.B., M.A., Ph.D. seorang guru besar bidang cognitive science di Universitas Tsingshang, salah satu Universitas terbaik dunia, di China. Dia dipercaya menjabat sebagai Wakil Menteri di Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. Bahkan, dirinya diundang langsung oleh Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran sebelum jajaran menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih diumumkan.
Tak heran jika Prabowo kesengsem dengan sosok asal medan ini hingga mendapuknya menjadi wamendiktisaintek. Jenjang pendidikan yang dilalui oleh Stella tidak main-main. Dia menghabiskan pendidikan setelah tamat SMA Santa Ursula di Jakarta dengan menghabiskan masa kuliah di sejumlah kampus ternama di Mancanegara. Prof. Stella menyelesaikan studi sarjana di Harvard University dan mendapatkan gelar Ph.D. dari Northwestern University dengan konsentrasi ilmu psikologi kognitif.
Stella Christie merupakan profesor atau ilmuwan di bidang cognitive science. Stella mempelajari secara khusus tentang otak manusia dan artificial intelligence (AI). "Saya adalah ilmuwan bidang cognitive science, adalah mempelajari bagaimana kita berpikir, jadi tentang otak dan cara pikiran yang memasukkan manusia, hewan, artificial intelligence (AI). Jadi ilmu saya adalah interdisipliner," katanya kepada awak media beberapa waktu lalu.
Stella Christie adalah profesor psikologi dan guru besar di Tsinghua University, Beijing, Cina, yakni universitas top 20 di dunia berdasarkan ranking QS World University Ranking 2025. Di kampus ini, Stella juga bekerja sebagai pengajar di Departemen Psikologi, Ketua Riset di Laboratorium Otak dan Kecerdasan, dan Direktur Pusat Kognisi Anak.
Kehadirannya sebagai Wamendiktisaintek, tentunya diharapkan mampu mebawa angin segar bagi pendidikan tinggi dan saintek di Indinesia. Terutama dalam hal mengelaborasi kearifan lokal yang bisa menjadi sumber pengembangan saintek dengan citarasa global. “Ekosistem saintek harus dibangun dari realitas lokal, tapi dengan standar global. Kita ingin riset dan pengembangan teknologi tidak berhenti sebagai proyek, tapi berkembang menjadi pola kerja yang terstruktur, berjejaring, dan berdampak panjang,” ujarnya saat kunjungan kerja di Samarinda, Rabu (18/6).
Stella menekankan itikad pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem sains dan teknologi di daerah-daerah melalui penguatan peran kampus vokasi sebagai simpul inovasi lokal. Upaya ini sekaligus untuk mengangkat nama kampus-kampus vokasi yang selama ini seolah kalah pamor dengan kampus umum.
Upaya pengembangan kampus vokasi juga tampak dari upaya Kemendiktisaintek mendorong transformasi pendidikan vokasi melalui program kerja sama internasional. Salah satu model yang diperkenalkan adalah U2U2B (University to University to Business) dengan skema one year + one year + one year: satu tahun belajar di universitas dalam negeri, satu tahun di universitas mitra luar negeri, dan satu tahun langsung di industri. Program ini sudah dimulai dengan kerja sama antara Liuzhou Polytechnic (Tiongkok) dengan politeknik di Jakarta dan Palembang. “Ini salah satu contoh nyata yang sudah dilakukan di Liuzhou Politeknik,” ucapnya.
Stella Christie menggarisbawahi bahwa pendidikan vokasi tidak hanya penting untuk menurunkan angka pengangguran lulusan, tetapi juga untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional. Dengan transformasi sistem vokasi, Indonesia akan mampu mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor hilirisasi, manufaktur, dan teknologi berbasis sumber daya alam dengan tenaga lokal yang unggul.
Selain itu, keberpihakan Stellah pada ekosistem riset dan inovasi juga ditunjukkan dengan menekankan pengembangan di Indonesia Timur yang selama ini kerap dianggap kurang diperhatikan. Dalam kunjungannya ke Universitas Cenderawasih, Jayapura, Wamen Stella menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat ekosistem Riset dan inovasi di wilayah Indonesia Timur.
Dia juga mneyampaikan alokasi dana sebesar Rp1,8 triliun yang khusus diperuntukkan bagi kebutuhan riset di kawasan tersebut. Komitmen yang sontak disambut antusias oleh para akademisi, peneliti, dan mahasiswa di Indonesia Timur yang telah lama mendambakan perhatian lebih pada potensi riset di wilayah mereka.
Menurut Strella, suntikan dana jumbo ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di seluruh pelosok negeri. "Riset yang relevan akan berdampak nyata bagi masyarakat dan membuka akses pendanaan dari pusat, daerah, ataupun industri," katanya seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Senin (21/7).