Jakarta, - Dalam gelaran Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara (Sumut), Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) diketahui mendukung menantunya, Bobby Nasution.
Terkait hal ini, menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Sumut, Rapidin Simbolon, Partai Coklat (Parcok) tidak hanya membantu memenangkan Bobby, tapi juga secara aktif mengintimidasi pihak-pihak yang teridentifikasi mendukung Edy Rahmayadi.
Rapidin mendeteksi Parcok mulai bergerak sejak tiga bulan sebelum hari pencoblosan. Mereka bergerak di ruang senyap hingga menggunakan tangan orang lain dalam setiap tindakannya.
“Ada yang tidak kelihatan, seperti angin berhembuslah. Angin berhembus, pohonnya goyang, tapi tidak kelihatan angin yang menggoyangnya,” katanya seperti melansir Inilah.com.
Meski begitu, Rapidin menyebut pihaknya berhasil mengendus tindakan senyap Parcok. Salah satunya ketika Polisi tidak menggubris laporan yang diajukan kubu Edy atas tindakan kekerasan yang dilakukan tim pemenangan Bobby.
Sampai sekarang laporan itu dibiarkan begitu saja, padahal Rapidin meyakini semua bukti sudah disertakan.
Rapidin juga mengungkapkan beberapa modus keterlibatan Parcok berdasarkan kesaksian beberapa kepala desa kepadanya.
Pertama, setiap kepala desa yang teridentifikasi tidak mendukung Bobby dipanggil oleh Kasat reskrim Polres di wilayah Sumut.
Pemanggilan itu mulanya disebut akan berkaitan dengan kinerja mereka selama menjabat sebagai kepala desa.
Namun, setelah sampai di kantor polisi mereka malah diintimidasi dan diarahkan untuk memenangkan Bobby.
Kepala desa yang menolak, diancam akan diungkap semua kasus hukumnya. Bagi mereka yang tidak memiliki kasus hukum, diancam akan dikasuskan. Alhasil, mau tidak mau mereka harus melaksanakan apa yang sudah diarahkan untuk memenangkan Bobby.
“Mereka terancam dan mungkin sehabis Pilkada bisa saja mereka dipanggil dan benar-benar diperiksa,” ujar Rapidin.
Setelah pemanggilan itu, secara masif kepala desa bergerak membantu pemenangan Bobby dengan membantu membagikan sembako dan tindakan lainnya. Selama gelaran Pilkada, pergerakan mereka tetap diawasi aparat.
Ada beberapa kepala desa yang kemudian bergerak secara diam-diam memenangkan Bobby agar tidak diketahui oleh masyarakat, ada pula yang terang-terangan melakukan deklarasi dukungan terhadap Bobby sebagaimana yang terjadi di Tapanuli Selatan.