Jakarta, - Jakarta dan hampir seluruh wilayah di Indonesia mulai memasuki puncak musim penghujan. Untuk di Ibu Kota, terdapat tiga sumber banjir, yakni hujan lokal, air kiriman hulu, dan air rob di pesisir Jakarta.
Merespons kemungkinan banjir Jakarta, Pemprov DKI melalui BPBD DKI membuat skenario kemungkinan terjadinya banjir. Salah satunya adalah skenario bila terjadi hujan lokal dengan intensitas tinggi.
Berdasarkan Buku Saku Panduan Kesiapsiagaan Menghadapi Banjir Bagi Masyarakat yang diterbitkan BPBD DKI, skenario hujan lokal diambil berdasarkan kejadian banjir yang terjadi pada Februari 2015.
Prediksi kejadian banjir akibat hujan lokal yakni jika terjadi hujan lebar dengan curah hujan 50-150 mm per hari yang terjadi selama 1-2 hari di Jakarta. Dengan kondisi itu. diperkirakan tinggi genangan banjir rata-rata yakni 10 cm-300 cm.
Dari skenario tersebut, diprediksi akan ada 38 kecamatan, 133 kelurahan, 621 RW, dan 1.924 RT yang akan terdampak. Jumlah pengungsinya pun diperkirakan 41.202 jiwa.
Diasumsikan 5% dari total pengungsi atau 2.060 merupakan penduduk berisiko tinggi. Kemudian 46% atau 18.592 merupakan penduduk yang sakit.
Skenario Hujan Lokal dan Rob
BPBD kemudian membuat skenario jika terjadi hujan lokal dengan intensitas tinggi disertai dengan banjir rob di utara Jakarta. Skenario ini berdasarkan kejadian banjir pada Februari 2015 dan banjir rob di Juni 2020.
Prediksi kondisi dalam kejadian ini yakni jika hujan terjadi di Jakarta dengan intensitas 5-150 mm per hari. Sementara ketinggian air laut ada di posisi 0,9 meter sampai 1,5 meter.
Dengan skenario itu, diperkirakan wilayah yang terdampak sebanyak 40 kecamatan, 139 kelurahan, 648 RW, dan 1.984 RT. Dengan perkiraan penduduk yang akan mengungsi sebanyak 41.202 jiwa.
Jumlah penduduk berisiko tinggi diperkirakan mencapai 41.202 orang atau 5% dari total pengungsi dan 1.8.952 orang sakit atau 46% dari total pengungsi.
Diperkirakan ketinggian air dalam skenario ini mencapai 10 cm-300 cm.
Antisipasi Banjir Jakarta
Untuk mengantisipasi terjadi banjir tahun ini, warga diminta tidak membuang sampah, kantong plastik, dan botol plastik ke dalam saluran air, got, dan sungai. Warga juga diminta tidak membangun bangunan di bantaran sungai.
Jika ditemukan ada saluran yang tersumbat, Pemprov DKI meminta masyarakat tidak abai. Selain itu, selokan jangan ditutup dengan maksud untuk menambah lebar jalan.
Sebaiknya warga juga tidak menyimpan dokumen di tempat yang rawan terkena banjir dan tidak memasang stop kontak di area banjir.
Panduan Bagi Masyarakat
Sebelum terjadi banjir, sebaiknya masyarakat mengetahui zona rawan banjir di sekitar permukiman mereka. Warga diminta memahami peringatan dini banjir yang ada di wilayahnya.
Tak kalah penting, warga harus paham jalur evakuasi dan lokasi pengungsian, serta merencanakan dengan keluarga tepat pertemuan bila terpencar saat terjadi banjir.
Warga tetap diminta melakukan pengecekan pada potensi listrik yang berbahaya bila terendam banjir. Antisipasi yang bisa dilakukan dengan mendokumentasikan surat dan dokumen dalam bentuk soft copy hingga mempertimbangkan asuransi perlindungan aset.
Tas siaga banjir juga bisa disiapkan. Dan jangan lupa, Anda dapat menyimpan nomor darurat di handphone. Sehingga, jika banjir terjadi, warga bisa langsung mengevakuasi diri.
Isi tas siaga bisa berupa obat pribadi, dokumen dan surat berharga, pakaian untuk 3 hari, selimut, dan foto keluarga. Dalam tas itu juga bisa disiapkan uang tunai, makanan, air mineral, power bank, kantong plastik, masker dan hand sanitizer, senter, dan peluit.