Kennedy Jennifer Dhillon, Pegiat Film:

Sekali Lagi, Kartini dan Emansipasi Perempuan

[INTRO]

Setiap tanggal 21 April kita merayakan Hari Kartini. Biasanya di hari itu, perempuan memakai kebaya atau baju tradisional daerah lainnya yang dianggap identik dengan pakaian asli bangsa Indonesia. Namun, di balik acara seremonial tersebut, pada kenyataannya masyarakat Indonesia tidak pernah mengetahui secara lengkap isi surat-surat Kartini.
 
Pendidikan di sekolah maupun universitas, juga media massa hampir tidak pernah menunjukkan apa sesungguhnya yang ditulis oleh Kartini dalam surat-suratnya itu. Siapakah Kartini dalam kacamata orang Indonesia? Dia adalah pejuang emansipasi wanita dengan syarat: tidak boleh lupa kodrat.
 
Emansipasi dalam pengertian orang Indonesia tidak dilihat secara mengakar. Emansipasi masih dimaknai negatif, yaitu ingin menaklukkan laki-laki, dan meninggalkan urusan rumah tangga. Emansipasi dianggap sebagai ajang perang antara perempuan dan laki-laki, oleh karena itu berbahaya.
 
Padahal, bila kita melihat asal mula kata “emansipasi”, kata ini memiliki makna yaitu jalan pembebasan setiap individu dari perbudakan, diskriminasi, dan penindasan. Siapapun yang melawan atau berjuang terhadap penindasan, dia telah melakukan emansipasi, atau disebut sebagai emansipatoris.
 
Emansipasi yang diperjuangkan RA Kartini juga tidak berbicara soal kebaya semata, dapur maupun urusan tempat tidur! Emansipasi itu berbicara tentang intelektual dan potensi yang harus digali untuk menghasilkan dampak, karena Kartini adalah seorang pemikir. Kegelisahan Kartini atas penempatan perempuan sebagai warga kelas dua dalam tatanan sosial bisa jadi karena ia telah terpapar budaya Eropa.
 
Tapi jelas beliau tidak ada keinginan sedikitpun untuk membuat budaya Jawa yang dicintainya berubah menjadi budaya ke-Eropa-eropaan. Kartini dengan sangat cerdas memilah apa yang bisa diambil dari Eropa dan kemudian diimplementasikan pada perempuan-perempuan di negerinya.
 
Kesetaraan dan kemajuan perempuan Eropa membuatnya ingin memperjuangkan hal yang sama di negerinya. Karena baginya kemajuan perempuan di tanah airnya hanya bisa diraih lewat pendidikan.
 
Kartini adalah seorang perempuan Jawa tulen yang masih sangat memegang kuat adat istiadat. Tapi di saat yang sama ia memiliki hasrat yang berlawanan.
Meskipun begitu, Kartini tetap tidak ingin kehilangan akar budayanya. Ini yg membuat saya jatuh cinta pada Kartini.
 
Namun sayang, Hari Kartini entah kenapa masih saja membandingkan perempuan satu dengan perempuan lainnya. Kenapa semua laki-laki menjadi otomatis hebat, maka ketika satu dipuji, mereka tidak perlu dibanding-bandingkan lagi dengan laki-laki lainnya?
 
Dalam hal ini, pemerintah memiliki kontribusi karena ikut mereduksi penghormatan kepada Kartini menjadi sekedar sanggul dan kebaya, padahal, Kartini lebih dari itu! Jawa-sentris bukanlah Kartini, karena ia bahkan sudah melampaui feodalisme dan kolonialisme di zamannya.
 
Hormat kepada semua perempuan hebat!