- Meskipun jumlahnya menurun selama satu dekade terakhir, perkawinan anak masih terjadi di beberapa negara di seluruh dunia. Menurut The New York Times, sebagian besar disebabkan kemajuan pola pikir penduduk di Asia Selatan. Namun di Nepal, salah satu negara termiskin di kawasan itu, para aktivis justru mengatakan pernikahan anak meningkat di beberapa desa.
Menurut data baru yang dirilis oleh Unicef, sekitar 765 juta orang yang hidup saat ini, menikah ketika usia anak-anak. Nepal memiliki tingkat pernikahan tertinggi di dunia, Unicef menyebut, praktik itu ilegal sejak 1963.
Hampir 40 persen wanita Nepal berusia antara 20 dan 24 menikah pada saat mereka berusia 18 tahun. Unicef melaporkan, negara itu juga memiliki jumlah besar calon pengantin pria muda.
Pemerintah Nepal telah bergerak maju melalui kampanye memberantas praktik pernikahan dini tahun-tahun mendatang. Namun, tantangannya menakutkan, kata para aktivis.
Di daerah pedesaan, para aktivis mengatakan beberapa pejabat terpilih secara terbuka menentang praktik ini sebab memiliki anak yang tidak mungkin mereka nikahkan saat remaja. Begitu pula tingkat melek huruf sangat rendah.
Adanya media sosial dan telepon seluler makin mempermudah pencarian calon untuk menikah. Dan banyak orang di Nepal melihat praktik ini masuk akal, mengingat kendala ekonomi yang sulit di komunitas mereka.
"Sangat sulit untuk mengubah pemikiran orang," kata Ram Bahadur Chand, seorang pejabat dewan kesejahteraan anak Nepal. “Mereka tidak melihat bahwa pernikahan anak menghancurkan masa depan mereka. Ini semacam kekerasan.”
Nepal telah mencoba membuat terobosan. Pemerintah baru-baru ini meningkatkan usia minimum bagi wanita untuk menikah pada dua tahun, menjadi 20, sesuai dengan usia untuk pria. Pada bulan Januari, para pejabat mengumumkan insentif uang tunai dan sepeda untuk keluarga yang menjaga anak perempuan mereka tetap bersekolah.
Para aktivis telah mengorganisasi di sepanjang perbatasan Nepal dengan India untuk mencegat pengantin muda yang berisiko diperdagangkan ke pelacuran. Negara itu telah berjanji untuk menghapuskan pernikahan anak pada tahun 2030.
Tetapi upaya pemerintah telah menemui keberhasilan yang terbatas. Terlepas dari kemiskinan dan kurangnya pendidikan, masalah itu, kata para aktivis, sebagian terkait dengan sifat tenaga kerja di Nepal, sebuah negara pegunungan yang berbatu yang didukung oleh pengiriman uang dari warga yang bekerja di luar negeri.
Setiap tahun, ratusan ribu orang meninggalkan Nepal untuk pekerjaan konstruksi di Teluk Persia. Untuk keluarga yang lebih miskin, menikahkan anak perempuan mereka dengan anak laki-laki sebelum mereka pergi ke luar negeri dianggap menguntungkan secara finansial dan juga membantu menuntaskan kebutuhan.
"Ketika desa-desa kosong dari laki-laki, keluarga membutuhkan anak perempuan untuk merawat orang tua dan menangani kegiatan rumah tangga,” kata Tarak Dhital, seorang aktivis sosial di Kathmandu, ibukota Nepal.