Mengenang RA Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904)

Film Kartini dan Pendulum Indonesia yang Kian ke Kanan

Jakarta, - Jagoanku, Kei dan Che, pnonton film di Arion Plaza saat aku dan ibu mereka, Rin, mewawancarai 2 narasumber di bilangan Jl. Balai Pustaka, Rawamangun, di suatu siang siang. Begitu bertemu lagi kami bercakap terutama di taksi saat menuju stasiun Kalibata.

Dalam bayanganku keduanya baru menikmati produk Hollywood buatan Marvel atau DC. Kalau tidak ya film action  sejenis Fast and Furious  atau Resident Evil. Untuk memastikan, aku pun bertanya.

“Kami menonton film Kartini,” kata Kei. 

“Tumben menonton film Indonesia…,” ucapku dengan agak terheran.

Kedua penyuka film dan komik itu jarang menyaksikan karya layar lebar  sineas dalam negeri. Seingatku Laskar Pelangi, Ainun dan Habibie, dan  Warkop DKI  saja yang mereka tonton. Laskar Pelangi  mereka suka sehingga itu menjadi bahan perbincangan di rumah kami sampai berhari-hari. Sesudah menikmati di bioskop mereka lantas memutar DVD-nya beberapa kali di rumah. Adapun  Warkop DKI, komedi  tersebut kurang mengesankan mereka sebab selain slipstik juga tidak mampu memunculkan karakter kuat Tora Sudiro dan pemain  top lainnya.

“Apa bagusnya film Kartini? tanyaku.

Anak kelas 6 dan 4 itu seketika berlomba menggali  ingatannya.

“Ceritanya menarik. Di rumah Kartini ternyata orang  tidak boleh berjalan dengan gaya biasa. Kartini, kakaknya, dan adiknya harus ngesot  kalau lewat di depan ayah dan ibu tirinya. Tapi kalau di kamar Kartini,  semua orang boleh bebas ngapain  pun termasuk ketawa atau baca buku, ” kata Kei.

Settingnya juga kuat. Benda-benda yang kelihatan [maksudnya: properti] jadul semua. Juga tampang orang-orangnya. Dialognya banyak dalam bahasa Jawa dan bahasa Belanda tapi nggak masalah karena sub-tittle-nya  ada,” ucap Che.

“Gambar-gambarnya bagus. Menyeramkan dan menyedihkan; tapi ada juga yang lucu-lucu,” lanjut Kei. Untuk menggambarkan, ia menceritakan sepotong adegan. Adiknya kemudian menimpali.  

“’No spoiler’,” Rin menyela.

Menjawab pertanyaanku, Kei dan Che nyaris tergoda untuk melanggar aturan main kami selama ini yakni: dilarang menceritakan jalinan kisah film yang sudah ditonton jika di antara hadirin ada yang belum menyaksikan karya yang sedang dibincangkan.  

Sudah sekitar pukul 20.00 saat kami tiba di Bogor kemarin. Di kamar tidur pun kami berempat masih bercakap ihwal sosok Kartini. Tadi pagi juga demikian. “Setelah menonton filmnya aku jadi tahu lebih banyak sejarah hidup Ibu Kartini,” kata Kei.

 

Penopang keluarga. (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Terbiasa menikmati film Amerika berkualitas sejak masih kecil, Kei dan Che yang  tahan menyimak hingga tuntas karya macam IT’, AI, Titanic, Terminal,  Sully , atau Live By Night, merupakan penonton yang kritis.  Begitu mereka menyatakan  Kartini  bagus aku langsung memutuskan akan menyaksikannya suatu waktu. Aku tahu, mereka tak akan sembarang merekomendasi sebuah karya layar lebar.

Seperti keduanya, aku jarang sekali menonton film Indonesia sejak era Arsrul Sani, Wim Umboh, Sjuman Jaya, Teguh Karya dan sineas sezaman berlalu. Laskar Pelangi-lah karya lokal yang terakhir kusaksikan sampai dua kali: sekali bersama jagoanku di rumah dan sekali di bus saat bersama rombongan wartawan Bandung menuju lokasi syuting film itu di pantai berbatu raksasa di Belitung. Film Ainun dan Habibie  kunikmati sehari sebelum diriku menjadi pewawancara dalam ‘talk show’ yang menampilkan bintang tamu Pak BJ Habibie, saat hari ulang tahun AJI di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan.

Film Kartini  akan lekas kutonton. Sungguh!  Selain karena rekomendasi kedua jagoanku, aku punya alasan lain untuk itu.

***

Minggu malam  23 April 2016 aku bercakap dengan kawan Yose Hendra seusai sesi akhir Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ), di Padang. Awalnya lelaki tinggi-tegap penyuka sejarah itu memperlihatkan tulisannya di Padang.com  ke aku. Artikel tentang Roehana Koeddoes—jurnalis terkemuka Sumatra Barat yang juga kakak tiri PM Sutan Sjahrir—itu telah dibaca oleh 30.000-an orang. Judulnya: Rohana Kudus, Bersuara di Koran Bukan Curhat di Surat Ala Kartini. Artikel Jose—tekun dan senantiasa bersemangat, awak Media Indonesia yang sedang mengikuti pendidikan S-2 ini peserta ujian kompetensi  jenjang utama—kubaca saat itu juga.  Menurutku menarik meski bahannya dari  bacaan saja ditambah sedikit pendapat seorang dosen yang diwawancarai, sejarawan Siti Fatimah dari Universitas Negeri Padang.  Kekurangan artikel ini adalah konteks kesejarahan Kartini-nya ada  yang lepas.   

Bergaya provokatif—aku menyukainya—sejak dari judul  hingga alinea ke-17 Jose Hendra  menggugat kepahlawanan Kartini. Sedangkan di sepanjang paragraf  berikutnya ia menggarisbawahi puspa kelebihan Roehana Koeddoes dari Kartini. Di artikel ini terdapat sejumlah pernyataan keras.   Di antaranya:

  “Dengan realitas hidupnya, perjuangan Kartini jelas absurd. Bila ditelisik, menjadikan Kartini sebagai tokoh emansipasi, hanya pandai-pandai J.H. Abendanon, teman Belanda Kartini.”

……………

“Bukan menistakan apa yang telah dilakukan Kartini semasa hidup, tapi keraguan perjuangan Kartini pada kaumnya pantas dipertanyakan. Hidup di lingkungan berkecukupan, nyatanya Kartini tidak berani melawan poligami di masa itu.”

………………..

 “Roehana Koeddoes lebih nyata menyuarakan ketidakadilan pada perempuan di Minangkabau terutama yang dirasakannya di Kotogadang ketimbang Kartini.”

Penolakan terhadap Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904) sebagai pahlawan nasional kudengar juga di Jakarta beberapa hari sebelumnya di saat aku mengajar di sebuah kelas. Peserta (sekitar 30 orang) yang berasal dari korporasi itu umumnya  berpandangan miring terhadap putri Bupati Jepara tersebut. “Apa sebenarnya jasa Kartini? Memperjuangkan kaum perempuan? ‘Toh’ dia sendiri dimadu!” ucap salah satu dari mereka. Seorang yang lain berkata dengan sinis: “Siapa sih Kartini?”

Gugatan keras itu sempat membuat aku yang sudah akrab dengan lagu ‘Ibu Kita Kartini’ sejak kelas 1 SD terhenyak untuk sesaat. Namun,  begitu menguasai diri sepenuhnya aku langsung  menceritakan dialog singkatku dengan Pramoedya Ananta Toer ihwal Kartini.

Dengan nada yang santun ke sastrawan terkemuka Indonesia kelahiran Blora waktu itu aku mempertanyakan kelebihan Kartini. Kuingatkan bahwa cucu Pangeran Adipati Tjondronegoro  (mantan Bupati Demak) serta  keponakan Bupati Demak dan Bupati Kudus itu toh korban poligami juga.

Di luar dugaanku Pram menjawab dengan sangat sengit.

 “Jangan lihat dan nilai Kartini dengan kacamata sekarang!  Ingat: dia hidup di ujung abad ke-19. Di masa itu dia sudah berkorespondensi dalam bahasa Belanda dengan  orang-orang di Eropa. Di saat bangsanya mayoritas masih buta huruf dia sudah bicara ke Belanda penjajah negerinya  soal perlunya pendidikan untuk kaum pribumi, persamaan hak, demokrasi, dan sebagainya. Perjuangannya lewat pikiran, ide-ide…bukan fisik. Ia hidup di zaman yang masih sangat feodal; jadi bahwa ia kemudian dimadu itu soal lain,” ucap Pram dengan nada tinggi. Ia mengingatkan bahwa sejarah peradaban semuanya ihwal perjuangan menggelindingkan ide-ide.

Aku mencoba memaknai ucapan Pram itu. Isi buku Panggil Aku Kartini Saja yang  ditulis Pram kemudian kusimak. Biografi yang sekaligus telaah sejarah yang menarik ini membantu aku memaknai arti perjuangan seorang Kartini di negeri khatulistiwa yang kemudian bernama Indonesia.  Sejak membacanya aku tidak meragukan lagi kebesaran Kartini.

Kartini berinteraksi dengan orang-orang Belanda yang kemudian memperjuangkan pemberlakuan politik etis (politik balas budi ke negeri jajahan) di Hindia-Belanda. JH Abendanon (mantan Menteri Kebudayaan) dan istrinya, serta C. Th. Van Deventer (politisi), terutama. Berkat politik etislah penguasa Belanda kemudian membuka sekolah-sekolah serta mendirikan Dewan Rakjat (Volkskraad). Munculnya elit terdidik di negeri kita—mereka kelak menjadi founding fathers  Republik Indonesia—adalah buah dari kehadiran lembaga pendidikan tersebut.  

Tanpang desa, rezeki kota. (foto: P. Hasudungan Sirait)

Ke para peserta di kelas tersebut ujaran Pram kusampaikan. Apa yang kualami setelah mengakrabi  Panggil Aku Kartini Saja juga kuceritakan. Ke kawan Yose Hendra hal yang sama kukatakan. Aku berharap mereka akan sudi menelaah sumber sejarah secara berimbang.

Aku merasakan penolakan terhadap kepahlawanan Kartini berlipat-lipat belakangan ini. Setelah meninggalkan Padang kemarin subuh, selama di pesawat  aku mencoba memikirkan apa gerangan yang sedang terjadi. Tafsirku adalah: pendulum Indonesia kini semakin bergeser ke kanan. Sementara Kartini yang hingga saat ini masih menjadi ikon perempuan Indonesia terlalu sekuler dalam hal apa pun termasuk dalam pikiran dan penampilan. Nada bicaranya soal agama terkesan sinis. Konde dan kebayanya terlalu Jawa. Dengan demikian sebagai role model ia hanya cocok untuk negara sekuler Indonesia; sebab itu ketokohannya perlu dikecilkan. Begitu interpretasiku.

Ternyata di hari Kartini 2017 film  Kartini  yang disutradarai Hanung Bramantyo dan dibintangi Dian Sastro mulai diputar di bioskop-bioskop. Antusiasme penonton untuk menyaksikannya tinggi. Memang selayaknyalah siapa saja yang masih setia pada negara kesatuan Republik Indonesia menonton film ini.  Apalagi mereka yang malas membaca buku bermutu tapi rajin melongok sekilas sajian di media on-line dengan cara scanning  atau skimming.

Agar pendulum Indonesia tidak semakin bergerak ke kanan, menurutku, pembuatan film-film bernafaskan paham kebangsaaan yang sejiwa dengan cita-cita proklamasi Republik Indonesia—Kartini, contohnya—perlu diperbanyak. Bagaimana menurut Anda?