Cinta Buya Ismail kepada HMI

- Ismail Hasan Metareum, lahir di desa kecil bernama Metareum, di Kabupaten Pidie, Aceh, pada 4 April 1929. Berkat kedalaman ilmu agama Islamnya, beliau akrab dipanggil ‘’Buya’’.

Saat Belanda melakukan Agresi Militer I, Buya pernah bergabung dengan Resimen Tentara Islam. Ia menjabat sebagai Kepala Staf Komando III Resimen yang berpusat di Banda Aceh.

Setelah Indonesia merdeka, Buya Ismail bertekad membangun umat melalui pendidikan. Maka ia  memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Buya masuk ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1952.

Sebagai tokoh yang pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia, Buya juga memperhatikan gerakan mahasiswa lain yang waktu itu mulai diperhitungkan, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Namun ia sempat kecewa terhadap HMI. Pasalnya, Ketua Umum PB HMI Dahlan Ranuwiharjo mengundang Soekarno dalam sebuah acara di Jakarta untuk membicarakan visi negara nasional dan negara Islam di tahun 1952. Saat itu pidato Bung Karno mendiskreditkan pemimpin-pemimpin Islam. Partai Masyumi waktu itu adalah musuh sengit presiden. Partai itu kemudian benar-benar dibubarkan pemerintah pada 1960.

Gara-gara acara HMI dan Soekarno mencemooh tokoh-tokoh islam, Buya Ismail membenci Himpunan yang dinilai terlalu nasionalis. Meski berasaskan Islam, HMI dipandang lebih berorientasi kebangsaan ketimbang keislaman.

Pada kongres ke-III HMI, Deliar Noor berhasil menjadi Ketua Umum PB HMI periode 1953-1955. Sebagai ketua organisasi, Deliar makin sering berdiskusi dengan Buya Ismail sebagai bekas aktivis Islam. Mereka berdua terlibat perdebatan mengenai konsep ideal negara dan keumatan.

Ketika ditanya kenapa tidak bergabung dengan himpunan, Buya menyampaikan kekecewaannya terhadap HMI dengan mengundang orang yang berpidato mencemooh pemimpin Islam. ‘’Kalau ingin menyampaikan kritik, mengapa tidak dari dalam saja? Silahkan ikut HMI, silahkan mengkritik. Saya akan dengarkan ide-idemu,’’ ujar Deliar menimpali Buya seperti yang tertulis dalam buku berjudul ‘’Partai Politik Reformasi dan Masa Depan’’,  diterbitkan Lembaga Studi Pembangunan Indonesia (LASPI:1999).

Tahun 1955, HMI mengadakan konferensi akbar di Kaliurang Yogyakarta yang diikuti tujuh cabang. Waktu itu yang berpengaruh ialah HMI Cabang Yogyakarta dan Jakarta.

Di kemudian hari, Buya diberi amanah menjadi pengurus besar. Buya Ismail menduduki jabatan Pembantu Umum. Suatu kali, ia ditugaskan membuat makalah. Buya lalu menulis pandangannya mengenai sikap HMI menyambut pemilihan umum 1955.

Sebagai kader dan Aktivis HMI yang militan, Buya merasa HMI harus membantu parta-partai Islam dalam pemilu 1955, tapi tetap bersikap independen. HMI harus menjadi pelopor kesepakatan diantara partai-partai Islam supaya tidak saling menyerang selama kampanye, agar kekuatan umat tidak terpecah dan terpolarisasi ke dalam kelompok-kelompok.

Gagasan independensi Buya itulah yang dikemudian hari diadopsi  Pengurus Besar HMI sebagai sifat organisasi. Kader HMI boleh diusung partai-partai Islam dan menjadi kandidat untuk mencalonkan diri anggota DPR, tapi harus terlebih dulu mengundurkan diri dari himpunan. Berkat peran aktifnya membangun sistem, Buya Ismail kemudian hari terpilih menjadi Ketua Umum PB HMI.

Saat menjabat menjadi Ketua PB HMI tahun 1958, Buya Ismail merasakan betul dinamika organisasi yang menguat. Ketika itu HMI mulai didominasi anak-anak NU dan bekas Masyumi. Kedua latar belakang itu membuat kader sering bergolak, sehingga Buya merasa harus mengatur supaya perbedaan pendapat menjadikan kader tetap satu visi. Dari situ lahirlah gagasan untuk merumuskan sistem perkaderan.

Untuk memaksimalkan regenerasi anggota, kader harus mengikuti masa perkenalan calon anggota yang dinamakan MAPERCA. Gunanya supaya pengurus mengetahui latar belakang, minat, bakat, dan keahlian calon kader. Agar mudah juga untuk mengarahkan dan membina mereka menjadi tulang punggung himpunan. Pelan tapi pasti, kebijakan ini semakin efektif dan sistematis seiring berjalannya waktu.

Dalam konferensi Nasional di Taruna Giri Puncak pada 1958, Ketua Umum PB HMI Ismail Hasan melalui makalahnya, menyampaikan pentingnya HMI membuat semacam pendidikan dan kursus-kursus guna meningkatkan kualitas intelektual kader. Gagasan yang ditawarkan berupa Pendidikan Dasar (Kader), intinya membedah tentang keorganisasian dan keislaman. Dua hal inilah yang menjadi dasar-dasar dalam Perkaderan HMI hingga hari ini.

Siapa menyangka, awalnya membenci HMI, Buya menjadi sosok yang paling cinta pada organisasi ini. Berkat kedewasaannya mengelola perbedaan pendapat, ia menjadi yang terdepan dalam membenahi HMI. Dari awal bergabung hingga akhir hayatnya, Buya Ismail selalu mencintai HMI dengan segala cara yang dibisa. Baginya, mencintai tidak harus selalu memuji. Cintanya pada HMI tidak selalu dengan kata-kata manis, tapi dengan mengkritik dan terjun langsung masuk ke dalam sistem.

 

Tags: |