Jakarta, - Menteri Pariwisata Kamboja Huot Hak menyambangi Villa Vie Odyssey pada Kamis (19/10) usai kapal pesiar mewah tersebut terdampar di Sihanoukville gegara tak mampu membeli bahan bakar.
Dilansir dari Channel News Asia (CNA), Huot Hak bertemu dengan kapten dan awak kapal Villa Vie Odyssey untuk menanyakan kondisi kapal dan bantuan apa yang sekiranya dibutuhkan oleh penumpang dan kru.
Kapal pesiar Villa Vie Odyssey terpaksa berlabuh di Kamboja pada Selasa (27/10) setelah perusahaan menangguhkan perjalanan karena tak sanggup membeli bahan bakar.
Villa Vie Residences, operator kapal yang berbasis di Amerika Serikat (AS), menyatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar yang "luar biasa" buntut perang AS vs Iran membuat perusahaan kesulitan mempertahankan operasional. Biaya bahan bakar bulanan per kabin di sejumlah wilayah Asia dilaporkan melonjak dari US$1.800 menjadi US$8.000.
Dalam pernyataan kepada media, Huot Hak mengatakan pihaknya memahami betapa mengkhawatirkannya situasi ini.
"Kami memahami betapa mengkhawatirkannya situasi ini, terutama karena dampaknya dirasakan langsung oleh para penumpang yang kini berada jauh dari rumah dan keluarga mereka,"beber Huot Hak.
Pernyataan Kapten Kapal
Dalam pernyataan terpisah, kapten kapal, Emanuele Giudice, mengatakan keputusan untuk meminta para penumpang turun dari kapal merupakan hal berat, namun tak bisa dihindari demi kenyamanan seluruh penumpang.
"Akibat kekurangan bahan bakar, kami terpaksa mematikan salah satu generator, sistem pendingin (chiller), serta lampu-lampu yang tidak esensial. Hal ini tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi para penumpang, sesuatu yang sama sekali tidak kami inginkan," jelasnya.
"Oleh karena itu, kami dengan berat hati meminta mereka untuk turun dari kapal karena kondisi persediaan bahan bakar sudah berada di titik kritis," lanjutnya.
Sebanyak 203 penumpang dan 156 awak kapal Odyssey saat ini terdampar di Sihanoukville.
Odyssey telah berlayar selama 755 hari sejak berangkat dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024. Kapal pesiar sepanjang 200 meter ini menawarkan perjalanan keliling dunia ke sekitar 150 negara.