Dua pejabat AS mengatakan kepada CNN, serangan sebelumnya hanya bertujuan "merapikan lahan", yaitu melemahkan kemampuan militer Iran dengan menyerang radar, peluncur rudal, dan aset lainnya yang dapat segera dipulihkan.
Sementara itu, operasi berikutnya berpotensi menyasar infrastruktur energi, instalasi militer, hingga fasilitas nuklir Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) dan Pentagon disebut telah menyusun daftar target untuk kemungkinan serangan tersebut.
"Ini akan menjadi upaya besar," kata salah satu pejabat AS kepada CNN.
Sejumlah pejabat AS, baik yang masih menjabat maupun telah pensiun, menilai kemungkinan serangan baru tersebut. Mereka mengetahui pembahasan internal mengenai perencanaan militer dan memperkirakan Trump dapat memerintahkan operasi tersebut sebelum akhir tahun ini, meski kemungkinan lebih besar serangan akan diluncurkan usai pemilihan paruh waktu AS.
Namun, Trump belum mengambil keputusan final. Para pejabat mengingatkan bahwa presiden AS tersebut sebelumnya pernah menunjukkan kecenderungan untuk mengambil tindakan militer, tetapi kemudian membatalkan rencana itu menjelang pelaksanaan.
Gedung Putih menolak memberikan komentar mengenai rencana tersebut. Sementara itu, seorang pejabat senior Pentagon mengatakan lembaganya bertugas menyiapkan berbagai opsi militer sesuai arahan presiden.
"Departemen ini adalah organisasi perencanaan, dan tugasnya adalah mengembangkan dan melaksanakan opsi militer yang diperintahkan oleh Presiden," kata pejabat tersebut.
Meski persiapan militer terus berjalan, serangan baru diperkirakan menghadapi tantangan. Pasukan Iran kini dinilai lebih memahami taktik militer AS sehingga berpotensi mempersulit upaya Washington menghancurkan seluruh target yang telah ditentukan.
Selain itu, intelijen AS memperingatkan kemungkinan Iran dan kelompok Houthi di Yaman membalas apabila AS dan Israel kembali menyerang Teheran.
Menurut dua sumber yang mengetahui penilaian intelijen terbaru, Iran dan Houthi menanggapi kemungkinan serangan baru tersebut dengan serius. Keduanya diperkirakan dapat menargetkan personel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah, bahkan berpotensi memperluas serangan ke wilayah lain.
Sebuah memo tidak diklasifikasikan tertanggal 23 Oktober dari Direktur Intelijen Nasional AS, Jay Clayton, kepada Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, menyebut Iran telah meningkatkan upaya untuk menargetkan personel AS.
Memo tersebut juga menyatakan upaya perencanaan Iran telah mencapai tahap lanjut, baik di Timur Tengah maupun di sejumlah negara lain.
Meski demikian, pejabat intelijen AS menilai Iran dan Houthi kemungkinan tidak akan melancarkan serangan pendahuluan yang meningkatkan eskalasi terhadap personel AS atau Israel dalam waktu dekat. Namun, keduanya diperkirakan tidak akan ragu membalas jika Iran lebih dulu menjadi sasaran serangan.
Di tengah persiapan AS, Israel turut mendorong serangan baru terhadap Iran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, disebut berupaya meyakinkan Trump agar kedua negara melancarkan operasi militer bersama.
Dua pejabat AS dan seorang sumber keamanan Israel mengatakan Washington meminta Netanyahu menunda serangan sampai pemerintahan Trump siap menjalankan operasi gabungan.
"Netanyahu sangat menginginkan dan mencoba meyakinkan Trump untuk melakukan serangan bersama di Iran sebelum pemilihan, dan Trump tidak memberikan lampu hijau," kata sumber keamanan Israel kepada CNN.
Sumber tersebut mengatakan salah satu pertimbangan Trump adalah dampak serangan terhadap situasi politik Israel. Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Eyal Zamir, disebut telah menyampaikan kepada Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, bahwa serangan dapat merugikan pemilihan di Israel dan menyebabkan penundaannya.
Israel sendiri telah mempersiapkan kemungkinan serangan tambahan terhadap Iran dalam sepekan terakhir. Negara itu juga melobi pejabat AS agar memberikan dukungan bagi operasi baru tersebut.
Namun, sejumlah pejabat senior AS, termasuk Trump, meminta Israel menunda serangan. Washington justru memberi sinyal bahwa kedua negara berpotensi melancarkan operasi bersama dalam waktu mendatang.