Jakarta, - Sebagai informasi, karena gas yang ada akan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, terutama kelistrikan di Batam, Bintan, dan Sumatra, Pemerintah Indonesia memutuskan mengurangi pasokan ekspor gas bumi ke Singapura.
SKK Migas menyebut pengalihan itu mencapai 31 juta kaki kubik standar gas per hari yang terdiri atas 15 juta kaki kubik dari Natuna, dan 16 juta kaki kubik dari Sumatra.
Singapura pun merespons keputusan tersebut dengan menyatakan telah memiliki rencana darurat sebagai antisipasi.
Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA) mengatakan pengurangan pasokan gas dari Indonesia berdampak kurang dari 2 persen terhadap total kebutuhan gas harian mereka.
"Total pengurangan mencapai 17 miliar British thermal units per hari (bbtud) selama periode 18 hari," kata juru bicara EMA dalam tanggapan atas pertanyaan media, dilansir dari CNA.
EMA menyebut Singapura memiliki rencana kontingensi menghadapi pengurangan pasokan gas. Singapore GasCo juga dinyatakan secara operasional siap mengimpor lebih banyak gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) kapan saja.
Langkah itu disebut untuk mengalihkan sebagian pasokan guna memenuhi kebutuhan listrik di dalam negeri.
Pemangkasan pasokan dari Indonesia ke Singapura ini menjadi perhatian karena gas alam berperan besar dalam sistem kelistrikan Singapura, sekitar 95 persen listrik di sana dihasilkan dengan menggunakan gas alam.
Singapura memperoleh pasokan gas melalui jaringan pipa dari Indonesia dan Malaysia, serta impor LNG yang dikirim dari berbagai pemasok internasional.
Pada 2025, gas alam yang dikirim melalui pipa menyumbang 43 persen dari total impor gas Singapura. Sementara itu, LNG menyumbang 57 persen sisanya.
Wakil Perdana Menteri Singapura, Gan Kim Yong pernah memperingatkan peningkatan kebutuhan gas alam di Indonesia dapat memengaruhi kemampuan Jakarta memasok gas ke negara lain.
Dalam jawaban di parlemen pada September 2025 lalu, Gan mengatakan kontrak impor gas Singapura dengan Indonesia dijadwalkan berakhir pada akhir 2028.
Gan, yang juga menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian, menekankan pentingnya mengamankan pasokan gas yang cukup dan beragam.
Dia menyebut tidak ada satu negara pun yang menyumbang lebih dari 30 persen impor gas Singapura pada 2024.
Untuk memperluas sumber pasokan, Singapura juga tengah membangun terminal LNG kedua yang diperkirakan mulai beroperasi pada akhir dekade ini.
Fasilitas itu diharapkan dapat meningkatkan kapasitas Singapura mengimpor gas dari pemasok di berbagai belahan dunia.