Ini Kronologi Siswi Karo Hilang Ingatan Usai Keracunan MBG

Jakarta, - Sebagaimana diketahui, kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kini berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

Hampir sebulan setelah insiden keracunan massal, seorang siswi berusia 16 tahun, Febiona Purba, dilaporkan mengalami gangguan ingatan hingga tidak mengenali sejumlah orang terdekatnya.

Kasus ini bermula pada 13 Agustus 2026, ketika ratusan siswa di sejumlah sekolah di Berastagi mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG.

Berikut kronologinya:

13 Agustus: Ratusan siswa mulai mengalami gejala

Insiden terjadi setelah siswa di sejumlah sekolah menyantap menu MBG yang didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikaitkan dengan Kodim 0205/Tanah Karo.

Data awal Dinas Pendidikan Sumatera Utara mencatat sedikitnya 265 siswa dari tiga SMA/SMK mengalami gejala keracunan. Mereka berasal dari SMAN 1 Berastagi sebanyak 202 siswa, SMA Swasta Bersama 25 siswa, dan SMK Swasta Bersama 38 siswa.

Selain tiga sekolah tersebut, dua SMP juga dilaporkan mengalami kejadian serupa sehingga jumlah korban kemudian berkembang.

Gejala yang muncul cukup cepat. Sejumlah siswa mengeluhkan mulut gatal dan terasa getir, kemudian muncul gatal pada kulit hingga sesak napas.

Menu MBG saat itu terdiri atas sayur kol, wortel, dan gulai ikan dencis. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV Zulkarnain Barus menyebut ikan dencis sebagai salah satu dugaan sumber masalah, meski saat itu penyebab pastinya masih dalam penyelidikan.

Korban dievakuasi ke sejumlah rumah sakit

Para siswa kemudian dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan.

Data berikutnya menunjukkan jumlah korban mencapai sekitar 279 siswa, dengan pasien tersebar di beberapa rumah sakit. Satu siswa bahkan harus dirujuk dari RSU Efarina Etaham ke RSU Haji Medan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Pemerintah Kabupaten Karo juga turun langsung memantau kondisi para korban dan memastikan penanganan medis dilakukan setelah kejadian tersebut.

BGN mengungkap dugaan masalah penyimpanan ikan

Persoalan kemudian mengarah pada proses pengolahan bahan makanan.

Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap hasil investigasi awal yang menemukan dugaan kelalaian dalam penyimpanan bahan baku ikan. Sekitar 200-300 ekor ikan disebut tidak disimpan di dalam freezer selama 10-12 jam sebelum diolah dan disajikan kepada siswa.

Temuan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam penyelidikan dugaan keracunan massal di Karo. Namun, temuan itu belum otomatis membuktikan bahwa ikan tersebut menjadi penyebab seluruh gangguan kesehatan yang dialami siswa.

Dampak kasus tersebut berlanjut pada operasional dapur MBG. SPPG yang menjadi sumber distribusi makanan para siswa kemudian mendapat sanksi penghentian sementara.

Jumlah korban dalam laporan berikutnya juga mengalami perubahan. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sempat menyebut 353 siswa terdampak dalam insiden tersebut. Perbedaan angka dalam sejumlah laporan terjadi seiring proses pendataan dan perkembangan kondisi korban.

Febiona menjadi salah satu korban yang kondisinya berlanjut

Di antara para korban, terdapat Febiona Purba, siswi berusia 16 tahun.

Orang tua Febiona, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), mengatakan anaknya sempat menjalani perawatan selama tiga hari. Pada tahap awal, kondisi Febiona disebut masih normal.

Namun setelah pulang ke rumah, kondisinya berubah.

Febiona mengalami kejang dan kembali dibawa ke RS Haji Medan. Setelah itu, keluarga mulai melihat perubahan perilaku dan kemampuan mengingat pada sang anak.

Elvinus mengatakan Febiona bahkan mulai berbicara seperti anak-anak dan mengalami kesulitan mengenali orang-orang yang sebelumnya dekat dengannya.

"Pas awal dirawat itu belum (ada gangguan ingatan). Selama pulang dari Rumah Sakit Umum masih biasa, normal. Tapi setelah sampai di rumah, dia kejang, kami bawa ke RS Haji, di situlah dia mulai omongannya udah kayak anak-anak," ujar Elvinus.

Tidak mengenali keluarga

Perubahan paling mengkhawatirkan terlihat ketika Febiona tidak langsung mengenali anggota keluarganya.

Menurut Elvinus, sang anak beberapa kali harus diberi tahu kembali identitas orang-orang yang datang menjenguknya.

"Contohnya ibaratnya keluarga. Bibinya kalau datang, `Ini siapa?` katanya. Jadi kami kasih tahu, `Ini Bibi.` `Oh, Bibi.` `Ini siapa?` Suami bibinya, `Ini Kila Ndu, Nakku,` kami bilang. `Oh, Kila.` Ya gitu-gitu aja ingatannya gitu," katanya.

Keluarga kemudian mendapat informasi dari pihak rumah sakit mengenai adanya dugaan gangguan pada otak yang dikaitkan dengan paparan racun.

Namun, informasi tersebut masih merupakan keterangan yang disampaikan kepada keluarga. Belum ada kesimpulan medis yang secara terbuka memastikan bahwa gangguan ingatan Febiona disebabkan oleh makanan MBG.

"Cuma di Rumah Sakit Haji hari itu gini katanya, kan pindah ruangan, dibilangnya otaknya itu memang ada (terkena) gara-gara racun itu, katanya. Jadi sebenarnya ini dari ruang PICU juga udah ada, kenapa nggak dilaporkan sama kami. Jadi, ya kami mana tahu," ujar Elvinus.

Kasus ini menjadi semakin serius karena persoalan tidak berhenti setelah para siswa mendapatkan perawatan.

Hingga 7 September 2026, Rapat Dengar Pendapat terkait dugaan keracunan MBG di Karo masih belum menghasilkan kesimpulan mengenai penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa. Hasil pemeriksaan laboratorium masih dinantikan.