17 Ribu Hotspot Karhutla Kalimantan Berada di Habitat Orangutan

Jakarta, - Sebanyak 17.375 titik hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terdeteksi berada di wilayah habitat orangutan Kalimantan sepanjang periode pemantauan 1 Juni hingga 28 Agustus 2026. Jumlah tersebut mencapai 78,5 persen dari total 22.740 titik hotspot yang dianalisis.

Temuan itu menunjukkan tingginya paparan karhutla terhadap habitat tiga subspesies orangutan Kalimantan, yakni Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio.

Hasil tersebut merupakan bagian dari pemantauan dan analisis Geopix terhadap persebaran hotspot karhutla serta dampaknya terhadap habitat orangutan Kalimantan.

Geopix merupakan organisasi kampanye lingkungan dan konservasi independen di Indonesia. Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, mengatakan tingginya jumlah hotspot di wilayah habitat orangutan menjadi peringatan serius bagi kelestarian satwa yang berstatus critically endangered tersebut.

"Cukup miris gitu, bagaimana kita kehilangan luasan yang cukup banyak dari habitat orangutan di Kalimantan," kata Annisa dalam jumpa pers `Borneo Lautan Api` di Kota Yogyakarta, DIY, Rabu (3/9).

Menurut Annisa, karhutla tidak hanya menjadi ancaman bagi manusia, tetapi juga satwa liar yang tidak memiliki kemampuan untuk berpindah atau mengungsi dengan mudah ketika habitatnya terbakar.

"Manusia mungkin bisa melarikan diri, bisa mengungsi ke saudaranya yang tempatnya tidak terdampak, nah tapi satwa? Ini yang mungkin harus kita pikirkan gimana cara kita untuk bisa lebih memitigasi dampak dan untuk bagaimana melakukan perlindungan dan kelestarian orangutan itu ke depannya," katanya.

Dalam pemantauan tersebut, Geopix memetakan persebaran hotspot dan membandingkannya dengan peta resmi distribusi habitat tiga subspesies orangutan Kalimantan. Data kemudian diolah menggunakan ArcGIS, Earth Engine, dan RStudio.

"Kita temukan bahwa 78,5 persen hotspot itu berada di habitat orangutan Kalimantan di tiga subspesies itu. Nah ini, jadi melonjak drastis hingga pada Agustus itu total titik hotspot 17.375," kata Annisa.

Subspesies Pongo pygmaeus wurmbii menjadi yang paling banyak terpapar hotspot, dengan 13.085 titik berada di wilayah habitatnya. Geopix menemukan wilayah paling rentan berada di Kalimantan Barat. Tingginya paparan kebakaran dikhawatirkan mempercepat degradasi habitat yang sebelumnya telah tertekan akibat fragmentasi dan alih fungsi lahan.

"Lalu risiko pascakebakaran akan memutus konektivitas habitat orangutan karena habitatnya terfragmentasi, karena tidak bisa menyediakan pakan dan hal-hal lain yang menunjang kehidupan orangutan, dan ruang habitat makin menyempit," ungkapnya..

Karhutla berdampak langsung terhadap kehidupan orangutan karena sebagian besar aktivitas satwa arboreal tersebut berlangsung di tajuk pohon. Ketika pohon dan vegetasi terbakar, orangutan kehilangan tempat beraktivitas, bersarang, sekaligus sumber pakan seperti buah dan getah.

Hilangnya sumber makanan dapat mendorong orangutan keluar dari habitat untuk mencari pakan alternatif di sekitar permukiman atau aktivitas manusia. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan konflik, termasuk risiko satwa ditangkap atau diburu.

"Berarti kita akan menyaksikan bagaimana pembunuhan massal terhadap orangutan itu kalau kita tidak segera mengatasi dampak karhutla yang seperti mata rantai yang enggak pernah terputus ini ya," jelasnya.

Annisa mengatakan kondisi kering akibat El Nino dapat memperbesar risiko kebakaran karena vegetasi yang mengering menjadi bahan bakar. Kerusakan ekosistem gambut juga memperparah kerentanan karena pengeringan gambut membuat kawasan tersebut lebih mudah terbakar.

"Kalau di Kalimantan sendiri ada sekitar 4,5 juta hektar ekosistem gambut dari total luasan nasional," bebernya.

Selain ancaman fisik, kehilangan habitat dan paparan polutan juga dapat memicu stres pada orangutan. Menurut Annisa, stres dalam jangka panjang dapat memengaruhi kondisi tubuh dan sistem imun satwa.